Portal Berita Online


Banyak orang mengira Royal Dutch Shell salah satu perusahaan minyak dunia lahir dari laboratorium mutakhir di London atau pusat keuangan di Amsterdam. Struktur korporasi modernnya mungkin memang tertata di Eropa, namun jantung pertamanya berdepan dan berdenyut di sebuah wilayah terpencil di Sumatera. Jauh sebelum logo kerang kuning-merahnya menguasai dunia, akar raksasa energi ini sejatinya tumbuh dari tanah rawa yang menyala di Telaga Said, Langkat, Sumatra Utara sebuah wilayah yang kental dengan peradaban Melayu.
Kisah industri minyak modern Indonesia dimulai di sini, di atas tanah Melayu. Semua berawal dari kearifan lokal warga setempat. Sejak turun-temurun, masyarakat Melayu Langkat telah memanfaatkan rembesan minyak alami dari perut bumi. Pada tahun 1880, seorang mandor perkebunan tembakau asal Belanda bernama Aeilko Jans Zijlker, tertegun melihat obor milik warga lokal yang menyala sangat terang dan tahan angin. Saat bertanya, warga dengan bersahaja menjawab bahwa rahasianya ada pada "lilin tanah" yang dilumuri di ujung kayu. Tanpa kearifan lokal warga Melayu yang mengenali karakteristik alamnya, Barat tidak akan pernah tahu bahwa tanah tersebut menyimpan kekayaan luar biasa. Hasil uji laboratorium di Batavia kemudian mengonfirmasi bahwa cairan kental itu mengandung 62% kerosin murni, komoditas paling dicari di Eropa kala itu.
Penemuan minyak pertama di Indonesia ini tidak dimulai dari kegiatan seismik seperti lazimnya kegiatan eksplorasi minyak. Tapi lewat kearifan lokal orang Melayu.
Namun, kapitalisme Barat tidak bisa bergerak tanpa restu sang penguasa tanah. Di sinilah peran krusial institusi Kesultanan Melayu bermain melalui kebijakan strategis Sultan Musa. Pada tanggal 8 Agustus 1883, Sultan Musa (Tuanku Sultan Haji Musa) mengambil langkah berani dengan menandatangani piagam konsesi minyak pertama di Hindia Belanda. Kebijakan spesifik sultan saat itu sangat akomodatif namun terukur: ia memberikan hak eksplorasi yang sangat luas, membentang dari wilayah pesisir Sei Lepan, Bukit Sentang, hingga ke Bukit Tinggi di Pangkalan Brandan. Kebijakan visioner Sultan Musa inilah yang resmi membuka gerbang industri migas modern sekaligus menandai lahirnya minyak pertama di Indonesia.
Pengeboran komersial pertama akhirnya membuahkan hasil pada 15 Juni 1885 di sumur Telaga Tunggal No. 1, kawasan Telaga Said. Dari kedalaman 121 meter, minyak hitam menyembur deras. Pihak Kesultanan Langkat pun mendadak kaya raya berkat pembagian royalti hasil produksi minyak dalam jumlah besar, menjadikan Langkat salah satu negeri terkaya di Hindia Belanda. Untuk mengelola kekayaan dari tanah Melayu ini, berdirilah Royal Dutch Company pada tahun 1890, yang kemudian berkonsolidasi dengan Shell Transport and Trading Company asal Inggris pada tahun 1907 menjadi Royal Dutch Shell.
Menariknya, pola kebijakan para Sultan Melayu dalam mengelola kekayaan alam ini juga menjadi cetak biru di wilayah lain. Bergeser ke selatan, di tanah Melayu Riau, Sultan Syarif Kasim II dari Kesultanan Siak Sri Indrapura juga memainkan peran serupa. Pada tahun 1930, Sultan Syarif Kasim II memberikan izin dan konsesi eksplorasi di Wilayah Kerja Migas Rokan kepada perusahaan Amerika, N.V. Nederlandsche Pacific Petroleum Maatschappij (NPPM). Konsesi raksasa di Sumatra Tengah inilah yang di kemudian hari menjadi cikal bakal Caltex (kini PT Pertamina Hulu Rokan).
Lewat kebijakan kedua Sultan Melayu ini; Sultan Musa di Langkat dan Sultan Syarif Kasim II di Siakādua raksasa energi dunia, Shell dan Caltex, berhasil dipancing masuk ke tanah air.
Sejarah mencatat realitas yang tajam: warga Melayu memiliki kearifan lokal, para Sultan memberikan legalitas tanah dan visi diplomasinya, sementara pihak asing membawa teknologi bornya. Meskipun infrastruktur seperti kilang di Pangkalan Brandan (1892) dibangun oleh Belanda, semua itu berdiri di atas fondasi bumi Melayu. Setelah Indonesia merdeka, aset-aset strategis peninggalan era kolonial ini, termasuk sumur-sumur minyak milik Shell, akhirnya dinasionalisasi dan menjadi pondasi utama berdirinya Pertamina.
Jadi, setiap kali Anda melihat pom bensin Shell atau melintasi bekas ladang minyak Caltex hari ini, ingatlah bahwa korporasi global tersebut tidak bermula dari London atau Texas, melainkan dari sebuah obor warga dan tanda tangan para Sultan di tanah Melayu.[naz]