Bupati Afni Perjuangkan Sultan Siak ke-2 Tengku Buwang Asmara Jadi Pahlawan Nasional


Minggu, 30-8-2026


Bupati Afni Perjuangkan Sultan Siak ke-2 Tengku Buwang Asmara Jadi Pahlawan Nasional

JAKARTA--Bupati Siak Dr Afni Zulkifli MSi, terus memperjuangkan Sultan Siak ke-2, Tengku Buwang Asmara yang bergelar Sultan Mahmud Abdul Jalil Muzaffarsyah, untuk ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.


Upaya tersebut kembali disampaikan Afni saat bertemu Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta, Jumat (28/8/2026) malam. 


Dalam pertemuan tersebut, Afni menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas dukungan terhadap pelestarian cagar budaya di Kabupaten Siak. Ia sekaligus kembali mengingatkan usulan agar Tengku Buwang Asmara dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.


“Beliau Sultan Siak yang secara nyata ikut berperang melawan penjajah Belanda di masanya. Kami mengusulkan Sultan Siak ke-2 ini dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, selain sultan terakhir Siak, Sultan Syarif Kasim II. Kajian dan usulan ini sebenarnya sudah lama dan terus kita perjuangkan bersama,” ungkap Afni.


Afni juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan RI atas dukungan dana revitalisasi Istana Asserayah Hasyimiyah dan Balai Rung Sri sebesar Rp5,5 miliar yang diperoleh pada tahun ini.


Menurut Afni, perhatian pemerintah pusat terhadap peninggalan sejarah Kesultanan Siak menjadi bagian penting dalam menjaga warisan sejarah dan kebudayaan Melayu di Riau.


Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut baik upaya Pemerintah Kabupaten Siak dalam melestarikan sejarah Kesultanan Siak. Menurutnya, Kesultanan Siak memiliki posisi penting dalam sejarah Indonesia, termasuk karena menjadi salah satu kesultanan yang memberikan pengakuan dan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


“Kesultanan Siak ini kan adalah kesultanan yang termasuk pertama memberikan pengakuan dan bergabung ke NKRI, bahkan sultannya menyerahkan harta kekayaannya dan kedaulatannya kepada Republik Indonesia. Jadi luar biasa, kita sangat menghargai perjalanan sejarah di Siak,” ujar Fadli Zon.


Ia memastikan pemerintah akan terus mendukung upaya pelestarian cagar budaya di Siak. Terkait usulan Tengku Buwang Asmara sebagai Pahlawan Nasional, Fadli mengatakan hal tersebut akan dikaji bersama.


“Insya Allah akan dikaji bersama. Terkait bantuan cagar budaya, bantuan itu akan terus ada dan sebetulnya ini arahan dari Bapak Presiden, Bapak Prabowo Subianto,” katanya.


Fadli Zon juga menyampaikan rencana kunjungan ke Kabupaten Siak untuk melihat langsung sejumlah peninggalan sejarah Kesultanan Siak.


Usulan Tengku Buwang Asmara sebagai Pahlawan Nasional tidak terlepas dari rekam jejak perjuangannya dalam menghadapi kolonial Belanda.


Dalam catatan sejarah, Tengku Buwang dikenal sebagai sosok pejuang yang disegani dan ditakuti Belanda. Salah satu perjuangannya yang paling dikenal adalah Perang Guntung, yakni perlawanan Kesultanan Siak terhadap Belanda di Pulau Guntung, muara Sungai Siak.


Tengku Buwang dinobatkan sebagai Sultan Siak di Buatan pada 1746 M setelah Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah atau Raja Kecil wafat.


Empat tahun kemudian, pada 1750, Tengku Buwang memindahkan pusat kedudukannya ke Sungai Mempura. Langkah tersebut dilakukan untuk menjauhkan pusat pemerintahan dari pengaruh Belanda.


Namun, Belanda terus berupaya mendapatkan akses perdagangan di Sungai Siak. Kesempatan akhirnya diberikan dengan syarat perdagangan bebas dan tanpa monopoli. Belanda kemudian mendirikan loji di Guntung yang berada di muara Sungai Siak.


Dalam praktiknya, Belanda justru menggunakan posisi strategis loji tersebut untuk memaksakan kepentingan dagang. Pedagang yang melintas dipaksa menjual barang dagangannya, sementara cukai juga dikenakan kepada orang yang lalu-lalang.


Kebijakan tersebut memicu protes dari pihak Kesultanan Siak hingga sengketa berkembang menjadi konflik bersenjata. Perang Guntung kemudian berlangsung pada 1750-1760, ketika pasukan Kerajaan Siak melakukan perlawanan terhadap Belanda di Pulau Guntung.


Perlawanan tersebut membuat Belanda kehilangan sejumlah bahan perdagangan. Catatan mengenai kondisi tersebut antara lain tercantum dalam laporan Gubernur Malaka kepada Gubernur Jenderal Batavia pada 8 Maret 1758.


Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Sungai Siak merupakan salah satu pusat perdagangan penting yang menghasilkan berbagai komoditas dari pedalaman Sumatera, termasuk emas yang memiliki nilai strategis bagi perdagangan Melaka.


Perlawanan dan strategi Tengku Buwang dalam menghadapi Belanda kemudian menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Siak dan perjuangan masyarakat Melayu di kawasan Selat Malaka.


Kini, jejak perjuangan tersebut kembali diangkat ke tingkat nasional melalui usulan agar Tengku Buwang Asmara ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.


Bagi Pemerintah Kabupaten Siak, perjuangan tersebut bukan sekadar mengangkat nama seorang sultan. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membawa sejarah Kesultanan Siak serta kontribusi masyarakat Melayu dalam perjalanan bangsa Indonesia ke panggung nasional.[rr/mcr]

Penulis Riau Raya
Editor Lukman Hakim
  • BERITA TERKAIT

  • TAG TERKAIT