GLOSARIUM SABTU, 15-8-2026



IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial

Dari Istana Turki ke Kedai Pesisir Melayu: Riwayat Secangkir Kopi yang Meruntuhkan Kasta
Ilustrasi.

Dari Istana Turki ke Kedai Pesisir Melayu: Riwayat Secangkir Kopi yang Meruntuhkan Kasta

Kalau kita runut sejarahnya, dari catatan panjang tentang kedai kopi itu sebenarnya bukan cuma tempat melepas dahaga. Jauh sebelum kafe-kafe modern menjamur, ia adalah ruang intim di mana manusia duduk sejajar tanpa pandang kasta. Takdir minuman ini berubah total pada abad ke-16, ketika biji-biji kopi pilihan diboyong dari dataran tinggi Yaman menembus gerbang istana Ottoman di Istanbul. Begitu diseduh, cairan hitam pekat ini langsung menawan hati para sultan dan bangsawan Turki dengan keeksotisannya. Namun, kemewahan itu tak bisa dipenjara di balik tembok istana. Pesona kopi segera menular, aroma wanginya melompat pagar, dan uap seduhannya merembes kuat ke sela-sela kehidupan masyarakat jelata hingga berdirilah kedai kopi pertama seperti Kiva Han. Yang konon merupakan kedai kopi pertama di dunia.


Tempat itu pun menjelma jadi ruang kumpul warga yang sangat hangat dan merakyat.


Orang Turki mengenalnya sebagai kıraathane, yang arti harfiahnya "rumah membaca". Di bawah kepungan aroma seduhan kopi yang begitu pekat dan kuat—warisan rasa dari tanah Yaman—sekat sosial itu runtuh. Seorang pejabat istana bisa duduk satu meja dengan tukang kayu atau tentara, asyik mengobrolkan puisi, bermain catur, atau sekadar bergosip tentang politik terbaru. Begitu kuatnya daya ikat warung kopi ini sampai-sampai penguasa zaman dulu sempat ketakutan dan melarangnya karena dianggap tempat menyemai pemberontakan. Tapi, ikatan emosional manusia di dalamnya terbukti jauh lebih kuat daripada larangan sultan.


Semangat egaliter atau rasa setara itu rupanya juga mengalir deras di urat nadi masyarakat Melayu pesisir Sumatera. Namun, kalau di Turki kopi berkelindan erat dengan sastra dan politik istana, di pesisir kita, aroma kopi adalah aroma keringat, kerja keras, dan kepasrahan pada alam. Kedai kopi di tepi pantai lahir langsung dari rahim kehidupan para nelayan tradisional.


Kehidupan orang pesisir sepenuhnya diatur oleh napas alam. Ketika malam jatuh dan angin darat mulai berembus kencang, para nelayan berpamitan pada keluarga, mendorong perahu ke laut lepas demi menjemput rezeki. Di saat perahu menjauh, lampu-lampu minyak di kedai kopi pinggir pantai mulai menyala redup, setia menemani malam yang sunyi.


Saat fajar menyingsing, angin laut berganti membawa mereka pulang. Pantai pun mendadak riuh. Perahu-perahu merapat dengan palka penuh ikan, dan di sinilah kehangatan kemanusiaan itu terasa paling nyata.


Sebelum dan sesudah pasar tumpah itu berputar, muaranya adalah bangku-bangku kayu di kedai kopi. Bagi para pembeli atau tengkulak yang sudah menggigil menanti sejak subuh, secangkir kopi hangat adalah penyelamat dari kantuk dan angin laut yang menusuk tulang. Sementara bagi nelayan yang baru saja bertaruh nyawa membelah ombak semalaman, seruputan pertama kopi manis adalah bentuk syukur paling jujur karena masih diberi keselamatan untuk pulang ke darat.


Di atas meja kayu yang sederhana, yang kadang basah oleh basuhan air laut, semua orang melebur. Di sela-sela jepitan jemari yang kasar karena kapalan, kepulan asap dari lintingan rokok daun nipah dan wangi khas tembakau Jawa berbaur dengan uap kopi hangat. Sambil menikmati hisapan rokok daun yang lambat, mereka menghitung hasil tangkapan, melempar tawa, beradu seloroh, dan saling menguatkan. Kopi dan lintingan tembakau di pesisir Melayu bukan lagi sekadar pelipur penat, melainkan simbol persaudaraan yang tulus, perayaan atas hidup, dan ruang di mana masyarakat pesisir merajut hari esok bersama-sama.


Sudah ngopi pagi ini? [naz]