Rumah Budaya Kacip Tembaga Memukau Batam Lewat Musikalisasi dan Teatrikal Syair Datuk Laksamana


Rabu, 8-7-2026


Rumah Budaya Kacip Tembaga Memukau Batam Lewat Musikalisasi dan Teatrikal Syair Datuk Laksamana

BATAM - Gemuruh tepuk tangan menggema di arena Kenduri Seni Melayu (KSM) Kota Batam 2026 saat Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning mempersembahkan Musikalisasi dan Teatrikal Syair Datuk Laksamana Raja Dilaut I hingga IV pada malam keempat perhelatan budaya di Dataran Engku Putri, Batam Centre, Ahad (5/7/2026) malam.


Selama puluhan menit, panggung KSM Batam menjelma menjadi ruang yang membawa penonton menelusuri jejak sejarah, kepahlawanan, dan marwah Melayu melalui perpaduan syair klasik, musik, teater, tata cahaya, serta artistik panggung yang memukau.


Pertunjukan yang dipersiapkan selama dua bulan itu disutradarai oleh seniman dan budayawan Riau, Datuk Zalfandri Zainal MPd, yang akrab disapa Mat Rock Sejangat. Selain bertindak sebagai sutradara, ia juga membacakan syair dengan karakter vokal khas Melayu lama yang kuat, berwibawa, dan penuh penghayatan sehingga setiap bait syair terasa hidup di hadapan penonton.


Aransemen musik dipimpin Ridho Fatwandi SPd, bersama Ibenk Arrekan, Agus, dan para musisi lainnya. Harmoni musik Melayu yang dipadukan dengan sentuhan dramatik berhasil memperkuat emosi di setiap adegan.


Tokoh Datuk Laksamana Raja Dilaut diperankan secara estafet oleh empat aktor, yakni Wawan Irnawan sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut I, Erwin Syah Putra sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut II, Alfero sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut III, serta Supriandy atau Dedek Minah sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut IV.


Pergantian generasi tokoh tersebut menjadi simbol kesinambungan kepemimpinan, keberanian, dan perjuangan para Datuk Laksamana dalam menjaga marwah negeri Melayu di pesisir Selat Malaka.


Salah satu daya tarik utama pertunjukan hadir melalui teatrikal seni pencak silat Melayu yang menghidupkan sosok empat Datuk Laksamana Raja Dilaut dari generasi pertama hingga keempat. Wawan Irnawan tampil sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut I dengan karakter pemimpin yang arif dan gagah. Estafet kemudian dilanjutkan Erwin Syah Putra sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut II dengan gerak silat yang tegas dan penuh wibawa.


Selanjutnya, Alfero memerankan Datuk Laksamana Raja Dilaut III dengan gerakan yang lincah namun tetap berkarisma. Penampilan ditutup oleh Supriandy atau Dedek Minah sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut IV yang tampil penuh energi, tegas, dan kharismatik, seolah menjadi penutup perjalanan sejarah para laksamana penjaga marwah negeri Melayu.


Setiap pergantian tokoh diiringi lantunan syair yang dibawakan Zalfandri Zainal dengan penuh penghayatan, semakin memperkuat suasana dramatik di atas panggung.


Keempat pemeran tidak hanya berakting, tetapi juga menampilkan bunga silat Melayu yang anggun, sarat filosofi, dan penuh makna. Setiap langkah, kibasan tangan, putaran tubuh, hingga hentakan kaki berpadu harmonis dengan alunan musik dan lantunan syair sehingga menghadirkan pertunjukan yang memikat sekaligus menyentuh emosi penonton.


Koreografi silat digarap oleh Tuan Guru Syaiful Bahri bin Rahman dari Dompas, Sungai Pakning. Berbekal pengalaman dan pemahamannya terhadap seni bela diri tradisional Melayu, ia berhasil merangkai setiap bunga silat menjadi bagian utuh dari alur musikalisasi dan teatrikal. Hasilnya, setiap gerakan bukan sekadar menjadi tontonan yang indah, tetapi juga merepresentasikan nilai kepahlawanan, adab, dan marwah budaya Melayu yang diwariskan lintas generasi.


Penampilan yang dikemas secara matang itu sukses menuai decak kagum dari tamu undangan, seniman, budayawan, hingga masyarakat yang memadati arena pertunjukan.


Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Samson Rambah Pasir, mengapresiasi kualitas garapan Rumah Budaya Kacip Tembaga.


"Pertunjukan Kacip Tembaga sangat berkelas. Ini menunjukkan bahwa syair Melayu bukan sekadar warisan sastra, tetapi dapat dihidupkan kembali menjadi pertunjukan panggung yang modern tanpa kehilangan ruh budayanya. Garapannya matang, artistiknya kuat, dan mampu menyentuh emosi penonton," ujarnya.


Apresiasi serupa disampaikan Ketua Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kota Dumai, Datuk Timo Kipda SH.


"Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning telah memperlihatkan bagaimana warisan budaya Melayu dapat dipentaskan dengan kualitas tinggi. Ini bukan hanya hiburan, tetapi juga pendidikan budaya yang patut diapresiasi dan terus dikembangkan agar semakin dikenal generasi muda," katanya.


Keberhasilan malam itu bukanlah hasil yang diraih secara instan. Selama dua bulan, para pemain, pemusik, penata artistik, dan seluruh kru menjalani latihan hampir setiap hari demi menyatukan gerak, rasa, irama, serta penghayatan terhadap naskah Syair Datuk Laksamana Raja Dilaut.


Lelah, waktu, dan tenaga yang dicurahkan akhirnya terbayar dengan tepuk tangan panjang serta apresiasi meriah dari para penonton saat pertunjukan berakhir.


Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning merupakan wadah pelestarian, pengembangan, dan pembinaan seni budaya Melayu Riau Pesisir yang konsisten melahirkan karya-karya kreatif berbasis tradisi. Selain aktif mementaskan karya seni, lembaga ini juga menyelenggarakan berbagai kegiatan kebudayaan, membina generasi muda, melestarikan permainan rakyat dan sastra Melayu, serta mewakili Kabupaten Bengkalis dalam berbagai festival budaya di tingkat daerah maupun nasional.


Organisasi ini dipimpin Ketua Datuk Erwin Syah Putra SPsi, didampingi Sekretaris Datuk Supriandy SPd, Bendahara Datuk Wawan Irnawan SE, Timbalan I Datuk Alfero, dan Timbalan II Andhika. Adapun Dewan Pendiri adalah Datuk Zalfandri Zainal, sedangkan Dewan Penasehat terdiri atas Datuk Ridho Fatwandi, Datuk Ibenk Arrekan, dan Datuk Ephan Arrahman.


Bagi Rumah Budaya Kacip Tembaga, panggung Kenduri Seni Melayu Batam 2026 bukan sekadar ruang pertunjukan, melainkan panggung pembuktian bahwa warisan sastra Melayu mampu bertransformasi menjadi karya seni pertunjukan yang megah, menyentuh, dan tetap relevan dengan perkembangan zaman.


Ketika lampu panggung perlahan padam dan bait terakhir syair usai dilantunkan, yang tersisa bukan hanya tepuk tangan, melainkan juga kebanggaan bahwa denyut kebudayaan Melayu masih hidup, terus diwariskan, dan akan selalu menemukan jalannya menuju masa depan melalui tangan-tangan para pegiat budaya yang berkarya dengan sepenuh hati. [rls]

Penulis Riau Raya
Editor Lukman Hakim
  • BERITA TERKAIT

  • TAG TERKAIT