Portal Berita Online


Ada pemimpin yang menorehkan namanya di atas batu nisan sejarah hanya sebagai deretan angka tahun menjabat. Namun, ada pula pemimpin yang namanya terpatri dalam setiap bentang infrastruktur, deru mesin industri, hingga ingatan kolektif masyarakatnya. Bagi Kabupaten Siak dan bumi Riau, sosok itu bernama H. Arwin AS, SH.
Bagi publik luas, beliau adalah "Bapak Pembangunan Siak". Catatan formal akan selalu mengingatnya sebagai arsitek pemekaran daerah otonom, bupati dua periode yang sukses mengubah wilayah terisolasi menjadi kabupaten teladan. Namun, bagi saya yang beruntung mengenalnya agak lebih dekat—dan berkesempatan menjadi bagian dari gerbong visinya di Badan Operasi Bersama (BOB) PT BSP - Pertamina Hulu—Arwin AS adalah kombinasi langka antara ketegasan seorang visioner dan kehangatan seorang sahabat.
Diplomasi Gitar dan Jiwa yang Membumi
Di luar ruang rapat formal dan protokoler yang kaku, Pak Arwin adalah pencinta seni yang merdeka. Siapa yang bisa melupakan bagaimana sang Bupati, dengan senyum khasnya, berdiri di atas pentas rakyat, memeluk gitarnya, dan melantunkan lagu-lagu The Beatles? Musik bukan sekadar hobi baginya; itu adalah jembatan kultural. Melalui petikan gitarnya, ia meruntuhkan sekat pembatas antara penguasa dan rakyat. Di momen-momen itulah kita melihat sisi humanisnya yang utuh.
Keaslian karakternya juga tercermin dari sebuah cerita yang selalu membekas di ingatan. Suatu waktu, dari cerita salah seorang putera beliau, rindu akan kuliner mie rebus Bengkalis bisa membuatnya memilih menanggalkan baju dinasnya, menyetir mobil sendiri secara incognito, menembus jalanan tanpa pengawalan protokoler. Perjalanan itu bukan sekadar urusan memanjakan lidah, melainkan sebuah refleksi kerinduan pada akar historis daerah induknya—cara seorang pemimpin menjaga kewarasan dan tetap membumi di tengah riuhnya kekuasaan.
Tamparan Otokritik Kultural dan Obsesi Putra Daerah
Namun, warisan terbesar Pak Arwin bagi hidup saya bukan hanya tentang kedekatan emosional, melainkan keberaniannya menembus batas ketidakmungkinan ekonomi. Sebagai anggota Joint Management Committee (JMC) bersama Direksi Pertamina, ia terjun langsung ke medan laga birokrasi dan korporasi. Beliau memiliki obsesi besar yang membakar semangat saat itu: bahwa suatu hari nanti, kekayaan migas di perut bumi daerah harus mampu dikelola 100% oleh tangan-tangan putra daerah sendiri.
Jalan mewujudkan obsesi itu tentu tidak selalu mulus. Resistensi dan skeptisisme justru sempat muncul dari lingkaran dalam ketika beliau berniat menarik saya—yang saat itu sedang meniti karier mapan sebagai eksekutif di sebuah industri besar pulp dan kertas di Riau—untuk masuk ke dalam struktur BOB.
Di tengah keraguan dan perdebatan internal itu, Pak Arwin mengeluarkan sebuah kalimat pemungkas yang hingga kini terus terngiang dan membakar kesadaran saya. Beliau berkata dengan tegas:
“Kalau Cina saja percaya dengan anak ini, kenapa kita yang mengaku Melayu tidak percaya?”
Kalimat itu adalah sebuah otokritik kebudayaan yang menghujam. Pak Arwin sedang mendobrak mentalitas lama. Baginya, membela marwah Melayu dan daerah bukan dengan retorika kosong atau sentimen buta, melainkan dengan memberikan kepercayaan penuh pada kompetensi putra daerah yang telah teruji di kancah profesional. Dengan tamparan kata-kata itulah, beliau membuka jalan bagi saya dan banyak putra daerah lainnya untuk ikut memegang kemudi sejarah di Blok CPP.
Jembatan Sultanah Latifah: Monumen Kedaulatan Energi
Beliau tidak sekadar bermimpi; ia mengeksekusinya. Pak Arwin membalikkan logika pengelolaan keuangan daerah pada zamannya. Ketika daerah lain langsung menghabiskan dana bagi hasil migas untuk belanja birokrasi, ia menyuntikkan hasil dividen PT BSP sebagai holding company BOB untuk memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD) Siak.
Hasil dari keberanian dan visi jangka panjang itu kini berdiri megah dan kokoh melintasi Sungai Siak: Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah. Jembatan megah itu bukan dibangun dari utang atau belas kasihan pusat, melainkan monumen hidup kedaulatan energi yang dibiayai oleh keringat, dividen BUMD, dan kecerdasan daerah sendiri.
Selamat Jalan, Sang Perintis
Kini, sang kompas politik dan peletak fondasi itu telah mendahului kita. Catatan sejarah mungkin akan menuliskan rekam jejaknya dengan berbagai warna, tetapi bagi tanah Siak dan setiap pasang mata putra daerah yang hari ini mampu tegak berdiri mengelola industrinya sendiri, Arwin AS adalah pahlawan perintis yang tak tergantikan.
Selamat jalan, Pak Arwin. Terima kasih atas kesempatan karier, atas mimpi besar yang Anda tularkan, dan atas fondasi kokoh yang telah Anda tancapkan. Di atas Jembatan Sultanah Latifah yang megah, nama dan semangatmu akan terus abadi mengalir bersama arus Sungai Siak. Petikan gitarmu mungkin telah usai, namun harmoni pembangunan yang Anda ciptakan akan terus bergema di bumi Melayu.[naz]