Portal Berita Online

BENGKALIS--Program agroforestri yang mengombinasikan tanaman kehutanan, perkebunan, pertanian, dan peternakan dinilai memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan, khususnya pada lahan gambut. Selain memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat, pola ini juga mendukung upaya rehabilitasi kawasan hutan.
Konsep tersebut telah diuji coba oleh Koperasi Produsen Ikatan Pemuda Melayu Peduli Lingkungan (PIPMPL). Dalam penerapannya, koperasi mengombinasikan tanaman kehutanan berupa pohon geronggang (Cratoxylum arborescens) dengan tanaman perkebunan kopi serta tanaman pertanian seperti nanas dan lengkuas.
Pola tanam dilakukan secara berkelompok (rumpun), yakni setiap rumpun terdiri atas dua hingga empat pohon geronggang dengan jarak antarpohon sekitar satu meter. Jarak antar rumpun sekitar enam meter. Ruang kosong di antara rumpun dimanfaatkan untuk tanaman kopi dengan jarak tanam tiga meter, sedangkan ruang di antara kopi dan geronggang ditanami nanas maupun lengkuas.
Menurut pengurus koperasi, pola tersebut mampu menciptakan harmonisasi antara pelestarian lingkungan dan peningkatan pendapatan masyarakat. Kawasan hutan tetap terjaga, sementara lahan dapat dimanfaatkan secara produktif.
Ke depan, Koperasi PIPMPL juga tengah mengembangkan demplot agroforestri yang memadukan geronggang dengan tanaman kratom. Tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi dari hasil penjualan daunnya tersebut saat ini juga dikembangkan di sejumlah daerah di Kalimantan.
Dalam skema yang sedang disiapkan, ruang enam meter di antara rumpun geronggang akan ditanami kratom dengan jarak tanam tiga meter. Sementara ruang kosong lainnya akan dimanfaatkan untuk tanaman jagung dan porang.
Jagung ditanam lebih dahulu dengan jarak sekitar 50 sentimeter. Setelah berumur sekitar satu hingga satu setengah bulan, bibit kratom mulai ditanam. Tanaman jagung berfungsi sebagai pelindung alami bagi bibit kratom yang masih muda sekaligus membantu menjaga kelembapan lahan gambut.
Setelah jagung dipanen, batangnya tetap dibiarkan berdiri untuk memberikan naungan bagi tanaman porang yang ditanam berikutnya. Seiring pertumbuhan pohon geronggang, fungsi naungan kemudian akan digantikan oleh tegakan pohon hutan tersebut.
Ketua Koperasi Produsen PIPMPL, Solihin, mengatakan konsep agroforestri yang dikembangkan bertujuan memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.
Menurutnya, konsep tersebut sejalan dengan program pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan dan energi.
"Geronggang merupakan tanaman endemik lahan gambut yang mampu membantu rehabilitasi kawasan hutan yang rusak. Pohon geronggang dan kratom tidak kami tanam untuk ditebang, melainkan menjadi aset jangka panjang. Nilai ekonominya berasal dari perdagangan karbon serta hasil panen daun kratom untuk pasar internasional," ujarnya.
Ia menambahkan, hasil dari budidaya jagung dan porang juga menjadi bentuk dukungan terhadap program swasembada pangan nasional.
Menurut Solihin, penerapan agroforestri merupakan solusi atas semakin terbatasnya lahan di tengah meningkatnya jumlah penduduk.
"Melalui agroforestri, masyarakat tetap memperoleh penghasilan tanpa harus merusak hutan. Mereka justru terdorong menjaga hutan dari penebangan maupun kebakaran karena kawasan tersebut memiliki nilai ekonomi bagi mereka," katanya.
Untuk mendukung kebutuhan bibit, Koperasi PIPMPL telah membudidayakan pohon geronggang selama hampir 10 tahun. Saat ini koperasi mampu memproduksi jutaan bibit setiap tahun yang dipasarkan ke berbagai daerah untuk penanaman di lahan gambut maupun lahan mineral.
Harga bibit berkisar antara Rp5.000 hingga Rp8.000 per batang, tergantung ukuran. Seluruh benih yang dipasarkan telah memiliki sertifikasi dari instansi berwenang.
"Prioritas kami bukan semata-mata mencari keuntungan dari penjualan bibit, tetapi mendorong keberhasilan program agroforestri," kata Solihin.
Selain menjalankan kegiatan usaha, koperasi juga disebut memiliki program sosial. Berdasarkan informasi yang dihimpun, sekitar 20 persen keuntungan bersih dari penjualan bibit disalurkan kepada anak yatim, fakir miskin, kaum dhuafa, dan masyarakat kurang mampu.
Pengurus koperasi enggan mempublikasikan kegiatan tersebut secara terbuka. Mereka beralasan bantuan sosial merupakan bentuk ibadah yang tidak perlu dipublikasikan secara berlebihan.
Hal itu turut dibenarkan Pimpinan Pondok Pesantren Madani Nusantara, Desa Sungai Alam, Kecamatan Bengkalis, Ustaz Suhendri. Ia mengaku kerap diundang untuk memimpin doa dalam setiap penyaluran bantuan yang dilakukan koperasi.
"Saya sering diundang untuk memimpin doa setiap kali penyaluran bantuan kepada anak yatim, fakir miskin, orang tua dhuafa, dan masyarakat kurang mampu dilakukan," ujarnya.[Wan]