Penduduk Mulai Bergerak ke Kampar dan Siak, Ini Temuan Terbaru BPS Riau


Kamis, 7-5-2026


Penduduk Mulai Bergerak ke Kampar dan Siak, Ini Temuan Terbaru BPS Riau
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Riau, Asep Riyadi.

PEKANBARU--Arus perpindahan penduduk di Riau kini menunjukkan arah baru. Jika selama ini Pekanbaru dikenal sebagai magnet utama urbanisasi, hasil SUPAS 2025 dari Badan Pusat Statistik justru memperlihatkan munculnya pusat-pusat pertumbuhan baru yang semakin diminati masyarakat.


Dua daerah yang paling mencuri perhatian adalah Kabupaten Kampar dan Kabupaten Siak. Keduanya kini menjadi tujuan favorit perpindahan penduduk, baik dalam jangka panjang maupun lima tahun terakhir.


Siak tercatat sebagai daerah dengan migrasi masuk seumur hidup tertinggi di Riau, mencapai 44,01 persen. Sementara Kampar berada tepat di belakangnya dengan 43,66 persen. Namun dalam tren terbaru, Kampar tampil paling dominan dengan angka migrasi masuk risen sebesar 9,44 persen dan migrasi keluar hanya 2,12 persen.


Angka tersebut menempatkan Kampar sebagai daerah dengan migrasi neto tertinggi di Riau, yakni 7,33 persen. Kondisi ini menandakan Kampar semakin dilihat sebagai kawasan yang menjanjikan untuk tempat tinggal, usaha, hingga mencari peluang ekonomi baru.


Di sisi lain, Pekanbaru justru menghadapi fenomena berbeda. Meski tetap menjadi pusat ekonomi dan aktivitas terbesar di Riau, kota ini mengalami arus keluar penduduk yang cukup tinggi dalam lima tahun terakhir.


Data menunjukkan migrasi keluar risen Pekanbaru mencapai 12,69 persen, jauh lebih besar dibanding migrasi masuk yang hanya 4,28 persen. Artinya, lebih banyak warga yang memilih meninggalkan Pekanbaru dibanding datang menetap.


Fenomena ini mengindikasikan mulai terjadinya pergeseran pola hunian masyarakat ke wilayah penyangga yang dinilai lebih nyaman, lebih luas, dan memiliki biaya hidup yang relatif lebih terjangkau.


Selain Kampar dan Siak, sejumlah daerah lain juga mulai menunjukkan daya tarik positif, seperti Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, hingga Dumai.


Sebaliknya, Kepulauan Meranti dan Kabupaten Indragiri Hilir masih menghadapi tantangan besar karena arus keluar penduduk yang relatif tinggi dibanding pendatang baru.


Kepala BPS Riau Asep Riyadi menilai perubahan pola migrasi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dalam menentukan arah pembangunan ke depan. Wilayah dengan arus masuk tinggi dituntut mempercepat pembangunan infrastruktur dan layanan dasar, sementara daerah yang terus kehilangan penduduk perlu memperkuat daya tarik ekonomi agar tidak semakin tertinggal.


Data ini sekaligus menegaskan bahwa peta pertumbuhan di Riau mulai berubah. Kini, perkembangan tidak lagi hanya bertumpu pada Pekanbaru, tetapi mulai menyebar ke daerah-daerah baru yang tumbuh lebih dinamis dan menjanjikan.[rr/mcr]

Penulis Riau Raya
Editor Lukman Hakim
  • BERITA TERKAIT

  • TAG TERKAIT