Portal Berita Online

Oleh : Irvan Nasir (Pemerhati Sosial)
TAHUKAH anda negara ini pernah selangkah lebih maju dari Malaysia dalam industri semikonduktor? Tapi sayangnya, langkah itu malah ditendang mundur oleh kebijakan yang lebih berpihak pada pencitraan politik ketimbang visi pembangunan jangka panjang. Cibubur seharusnya jadi Silicon Valley di Timur. Tapi kita memilih menjadikannya museum kegagalan.
Tahun 1973, Fairchild Semiconductor, perusahaan pelopor chip dari Amerika, menanamkan investasinya di Indonesia. Mereka membangun pabrik di Cibubur, membawa teknologi dari jantung Silicon Valley langsung ke tanah di Jakarta Timur. Saat itu, Malaysia belum ada dalam peta industri mikroprosesor global. Indonesia lebih dulu punya semuanya: tenaga kerja, lokasi strategis, dan bahkan goodwill dari korporasi teknologi global.
Tapi kemudian birokrasi dan mentalitas anti-kemajuan masuk ke panggung.
Tahun 1980-an, ketika Fairchild hendak meningkatkan efisiensi melalui robot industri—sebuah langkah alamiah dalam evolusi teknologi—pemerintah Indonesia menolaknya mentah-mentah. Alasan utamanya? Mengurangi tenaga kerja dianggap ancaman sosial dan politik. Menteri Tenaga Kerja, Sudomo, tampil sebagai simbol dari kebijakan proteksionisme sempit yang lebih peduli pada stabilitas jangka pendek ketimbang daya saing jangka panjang.
Akibatnya fatal. Fairchild pergi. Pabrik ditutup. Dan investasinya pindah ke Malaysia, yang justru menyambut dengan tangan terbuka, akal terbuka, dan kebijakan yang mendukung pertumbuhan. Penang berkembang menjadi "Silikon Valley" Asia Tenggara, rumah bagi Intel, AMD, dan perusahaan semikonduktor kelas dunia lainnya. Indonesia? Sibuk merakit barang elektronik dengan upah murah dan mimpi besar yang dipendam dalam debu Cibubur.
Kisah ini bukan sekadar tentang investasi yang gagal. Ini adalah potret kegagalan sistemik dalam membuat keputusan berbasis visi. Indonesia terjebak dalam narasi semu: seolah-olah melindungi rakyat, padahal sejatinya menahan mereka dalam posisi rendah dalam rantai nilai industri. Bukannya naik kelas menjadi operator mesin canggih, teknisi, atau insinyur, para pekerja kita malah dijaga agar tetap jadi buruh murahan—karena itu dianggap stabil.
Aneh. Negara yang berambisi menjadi macan Asia, takut pada mesin. Takut pada otomatisasi. Takut pada perubahan.
Lebih ironis lagi, saat itu Indonesia punya semua prasyarat untuk menjadi pemimpin regional di bidang teknologi manufaktur tinggi. Tapi kita kekurangan satu hal paling penting: keberanian untuk berpikir jangka panjang. Kebijakan industri ditentukan oleh kecemasan politik, bukan peta jalan inovasi.
Sebaliknya, Malaysia justru mengambil risiko. Mereka tahu bahwa industri masa depan bukan tentang banyaknya buruh, melainkan tingginya nilai tambah. Mereka mengembangkan kawasan industri Bayan Lepas di Penang dan membuka pintu bagi investasi padat teknologi. Hari ini, Penang bukan hanya kawasan industri, tapi pusat riset, pengembangan, dan inovasi teknologi tingkat dunia.
Sementara itu, Cibubur menjadi saksi bisu dari sebuah pengkhianatan terhadap masa depan.
Kita terlalu lama memelihara logika populisme sempit dalam industri. Terlalu lama mengira bahwa nasionalisme berarti menolak mesin dan mempertahankan kerja manual. Padahal yang sejati dari keberpihakan adalah menciptakan peluang naik kelas bagi pekerja, bukan mengurung mereka dalam kemiskinan yang dipermanenkan dengan alasan “perlindungan.”
Hari ini, saat dunia kembali bicara tentang krisis chip, otonomi teknologi, dan kedaulatan digital, kita baru panik dan ingin membangun industri semikonduktor nasional. Tapi sudah terlalu jauh kita tertinggal. Membangun ekosistem chip bukan hanya soal bikin pabrik. Itu soal mencetak SDM unggul, menciptakan rantai pasok, riset berkelanjutan, dan kebijakan industrialisasi yang bebas dari tekanan politik jangka pendek.
Sayangnya, hingga kini kita masih melihat mentalitas yang sama. Anti terhadap otomatisasi, skeptis terhadap robotika, dan terlalu nyaman dengan status quo. Padahal kalau tak segera berubah, kita akan kembali jadi pengamat, bukan pelaku.
Cibubur seharusnya jadi ikon. Tapi hari ini ia adalah epitaf. [naz]