Portal Berita Online

PEKANBARU--Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Universitas Riau menggelar nonton bareng (Nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di pendopo baru FISIP Universitas Riau, 15 Mei 2026, dua hari setelah pelantikan kepengurusan. Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabinet Gemilang ini dihadiri sekitar 300 peserta dari berbagai kalangan mahasiswa.
Acara tersebut mengangkat pembahasan mengenai dampak kebijakan Proyek Strategis Nasional (PSN) terhadap masyarakat di Papua, serta berbagai persoalan sosial, lingkungan, dan hak masyarakat adat.
Kegiatan berlangsung sejak pukul 20.15 hingga 23.00 WIB dalam suasana tertib dan kondusif. Acara dibuka dengan sambutan Gubernur Mahasiswa FISIP Universitas Riau Taufik Hidayat bersama Wakil Gubernur Mahasiswa Arahul Jadid. Keduanya menekankan pentingnya ruang diskusi kritis di lingkungan kampus untuk menumbuhkan empati terhadap isu-isu kemanusiaan, khususnya di Papua.
“Melalui pemutaran film dokumenter Pesta Babi ini, kami berharap dapat membangun empati terhadap masyarakat Papua yang menghadapi berbagai persoalan di tanah mereka. Papua bukan tanah kosong, melainkan wilayah dengan sejarah, identitas, dan kehidupan masyarakat yang harus dihormati,” ujar Taufik dan Arahul.
Usai pemutaran film berdurasi sekitar 90 menit, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi yang dimoderatori oleh M Alwi Zikri. Diskusi menghadirkan dosen Ilmu Pemerintahan Muhammad Afdal SIP MSi, dosen Ilmu Komunikasi Dr Chelsy Yasicha SSos MIKom serta tiga mahasiswa asal Papua yakni Noli, Magrit dan Eca.
Dalam pemaparannya, Muhammad Afdal menyoroti pentingnya peran mahasiswa dalam merespons dinamika kebijakan pembangunan melalui sikap kritis dan pendidikan yang berintegritas.
“Yang dapat kita lakukan saat ini adalah menanamkan ketekunan dalam pendidikan dan menolak berbagai bentuk korupsi. Itu kontribusi nyata yang bisa dimulai dari lingkungan akademik,” ujarnya.
Sementara itu, Chelsy Yasicha mengapresiasi inisiatif BEM FISIP Unri yang membuka ruang diskusi publik melalui pemutaran film dokumenter tersebut. Ia menilai film tersebut memberikan gambaran awal tentang kompleksitas persoalan di Papua, khususnya terkait masyarakat adat dan pembangunan.
“Apa yang kita saksikan malam ini baru satu sudut pandang dari banyak persoalan di Papua. Namun ini cukup untuk membuka ruang refleksi tentang perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan tanah kelahiran mereka,” katanya.
Mahasiswa asli Papua yang hadir juga menilai bahwa film Pesta Babi hanya merepresentasikan sebagian kecil dari realitas yang terjadi di lapangan. Mereka menekankan masih adanya berbagai persoalan lain seperti konflik agraria dan dampak eksploitasi sumber daya alam, serta mengajak peserta diskusi untuk tidak terjebak pada satu narasi tunggal di media sosial.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa lintas jurusan dan kampus. Salah satu mahasiswa asal Kabupaten Meranti membandingkan isu yang diangkat dengan konflik lahan di daerahnya, yang menurutnya juga belum terselesaikan secara adil. Sementara itu, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau menyoroti pentingnya kebijakan pembangunan yang berpihak pada keadilan masyarakat adat.
Film dokumenter Pesta Babi (2026) karya sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale ini diproduksi oleh Watchdoc bersama Jubi Media dan sejumlah pihak lainnya. Film tersebut menyoroti dampak kebijakan PSN di Papua Selatan, termasuk pembukaan lahan skala besar, isu dugaan perampasan tanah adat, deforestasi, serta dampaknya terhadap lingkungan dan budaya masyarakat setempat.
Menutup kegiatan, BEM FISIP Unri bersama peserta diskusi menyampaikan pernyataan sikap yang dibacakan oleh Gubernur Mahasiswa Taufik Hidayat. Dalam pernyataan tersebut, disampaikan kritik terhadap berbagai bentuk dampak kebijakan pembangunan yang dinilai merugikan masyarakat adat di Papua.
“Kami dari seluruh elemen mahasiswa menyuarakan sikap terhadap berbagai bentuk eksploitasi sumber daya alam di tanah Papua. Kami menolak segala bentuk ketidakadilan dan akan terus mengawal isu-isu kemanusiaan serta lingkungan yang terjadi di Papua,” ujarnya.
Kegiatan ditutup pada pukul 23.00 WIB dalam suasana kondusif, dengan seruan solidaritas terhadap masyarakat Papua sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap isu kemanusiaan, lingkungan, dan keadilan sosial.[Fik]