Orang Desa Memang Tak Pakai Dolar, Tapi Senyum Karena Ringgit


Minggu, 17-5-2026


Orang Desa Memang Tak Pakai Dolar, Tapi Senyum Karena Ringgit

Oleh: Irvan Nasir


Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal “orang desa tidak pakai dolar” sempat membuat jagat media sosial gaduh. Ada yang marah, ada yang tertawa, ada pula yang langsung membuka aplikasi kurs valuta asing - padahal tabungannya tinggal recehan.


Secara teori, mungkin maksud beliau sederhana: jangan terlalu panik melihat dolar naik. Orang kampung toh belanja di warung pakai rupiah, bukan pakai dollar Amerika.


Masalahnya, rakyat sekarang makin pintar. Mereka tahu meski tak pernah memegang dolar, harga hidup tetap ikut berjoget kalau dolar naik. Harga pupuk bisa naik. Harga mie instan bisa naik. Onderdil motor naik. Bahkan kadang cabe ikut merasa internasional.


Tetapi tunggu dulu.


Di tengah kegaduhan itu, ada satu kelompok masyarakat yang diam-diam justru sedang bahagia: keluarga pekerja migran di Kabupaten Kepulauan Meranti.


Di kedai-kedai kopi Selatpanjang, pembicaraan soal kurs bukan lagi sekadar topik ekonomi televisi. Ia sudah menjadi obrolan sehari-hari.


“Ringgit naik lagi.”


Kalimat itu bisa lebih ampuh menaikkan mood ketimbang motivator pagi hari.


Maklum saja, banyak warga Meranti bekerja di Malaysia. Ada yang jadi buruh kebun, pekerja restoran, teknisi, tukang bangunan, awak kapal, sampai pekerja pabrik. Ketika mereka pulang membawa ringgit, nilai tukarnya sekarang terasa lebih gagah saat ditukar ke rupiah.


Dulu kiriman 500 ringgit mungkin hanya cukup bayar listrik, beli beras, dan sedikit ikan asin. Sekarang? Bisa sekalian beli cat rumah, servis motor, bahkan cicil handphone baru.


Maka lahirlah paradoks khas negeri perbatasan.


Jakarta panik melihat rupiah melemah.


Sementara sebagian dapur di Meranti justru mengepul lebih tebal.


Di televisi, ekonom bicara soal tekanan global, perang dagang, dan arus modal asing. Di kampung, emak-emak cuma berkata sederhana:


“Alhamdulillah lah, duit yang dibawa si Abang bulan ini agak besar.”


Ekonomi memang kadang lucu. Apa yang dianggap musibah di pusat, bisa terasa seperti bonus tahunan di daerah perbatasan.


Tetapi jangan salah paham dulu. Ini bukan berarti rakyat berharap rupiah hancur. Tidak juga.


Sebab pelemahan rupiah tetap punya efek samping. Harga barang naik perlahan-lahan seperti rayap makan lemari. Tidak langsung roboh, tapi tahu-tahu habis.


Masalahnya lebih dalam dari sekadar kurs.


Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian ekonomi daerah ternyata masih bertumpu pada “keringat ekspor manusia”. Kampung hidup karena anak mudanya bekerja di negeri orang.


Ada rumah bagus di desa yang berdiri dari hasil memetik sawit di Johor. Ada anak kuliah dari hasil mencuci piring di Chow Kit. Ada warung sembako bertahan dari remitansi pekerja migran.


Ironis? Sedikit.


Tetapi itulah realitas ekonomi pesisir selama puluhan tahun.


Di banyak kampung Melayu pesisir Riau, ringgit bukan sekadar mata uang asing. Ia hampir seperti “saudara jauh” yang akrab dalam kehidupan sehari-hari.


Orang kampung mungkin memang tidak belanja pakai dolar. Tetapi mereka sangat paham nilai tukar.


Lebih paham daripada pejabat yang bicara sambil melihat grafik di layar LCD hotel berbintang.


Sebab bagi masyarakat perbatasan, kurs bukan teori ekonomi. Kurs adalah uang sekolah anak. Harga semen. Biaya berobat. Ongkos pulang kampung.


Dan lucunya lagi, rakyat kecil biasanya tidak terlalu peduli siapa gubernur bank sentral Amerika. Yang mereka peduli cuma satu:


“Kalau ringgit naik, abang bawa duit banyak dari Malaysia jadi lebih banyak.”


Selesai.


Mungkin di situlah letak kejeniusan rakyat kecil Indonesia. Mereka tidak sibuk berdebat memakai istilah makroekonomi yang rumit. Mereka hanya belajar menyesuaikan hidup dengan keadaan.


Kalau rupiah melemah, mereka bertahan.


Kalau ringgit menguat, mereka bersyukur.


Sederhana sekali.


Karena bagi rakyat kecil, ekonomi bukan soal teori di seminar. Ekonomi adalah soal apakah dapur tetap menyala besok pagi.


Apa kabar Panglong Arang di Meranti? []


Pekanbaru, 17/5/2026

Penulis Riau Raya
Editor Lukman Hakim
  • BERITA TERKAIT

  • TAG TERKAIT