.

AKMR dan Napas Kebangkitan


Minggu, 13-7-2025


AKMR dan Napas Kebangkitan
Kampus AKMR.

Di Jalan Garuda - HR. Soebrantas, Kelurahan Tobek Godang, Pekanbaru, sebuah bangunan besar berdiri setengah jadi. Dindingnya yang mulai kusam, kaca-kaca yang berdebu, dan halaman yang ditumbuhi ilalang mengisyaratkan kisah yang belum selesai. 


Inilah Kampus Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), institusi pendidikan tinggi berbasis seni dan budaya Melayu yang pernah digadang-gadang sebagai rumah besar pencetak seniman-seniman Riau masa depan—namun sempat lama tertidur dalam senyap.


Kini, pada Juli 2025, tanda-tanda kehidupan mulai kembali terasa. Sebuah pengumuman beredar dari satu nomor WhatsApp ke nomor lainnya: rekrutmen dosen dan tenaga administrasi AKMR sedang dibuka. 


Di balik pesan digital sederhana itu, tersimpan harapan besar: AKMR akan bangkit kembali dari vakumnya, membawa semangat baru untuk menghidupkan seni dan kebudayaan Melayu dari jantung Provinsi Riau.


Sejarah AKMR tak bisa dilepaskan dari semangat masyarakat Riau yang ingin memiliki lembaga pendidikan tinggi seni yang berpijak pada akar budayanya sendiri. Lahir dari denyut zaman yang menggeliat di awal era reformasi, AKMR berdiri bukan hanya sebagai ruang akademik, tetapi juga sebagai simbol identitas. Ia mewakili hasrat kolektif anak-anak Riau untuk belajar, mencipta, dan mengekspresikan budaya Melayu dalam bentuk-bentuk seni yang kontemporer tanpa tercerabut dari tradisi.


Di masa jayanya, AKMR sempat memikat banyak remaja dari berbagai kabupaten/kota. Para siswa SMA yang memiliki kecintaan pada tari, musik, teater, hingga seni rupa berbondong-bondong mendaftarkan diri. 


Tak sedikit orang tua yang merelakan anaknya menempuh pendidikan di kampus ini, meski secara ekonomi terbatas, semata karena ingin menjaga dan melanjutkan tradisi seni Melayu.


Sudah banyak lulusan AKMR yang kini tersebar di berbagai panggung kesenian Riau. Mereka menjadi penari istana budaya, guru seni di sekolah, seniman independen, bahkan ada yang menginisiasi komunitas-komunitas seni di daerah. Meski lembaga ini sempat vakum, warisan hidupnya tetap mengalir dalam nadi masyarakat yang mencintai kebudayaan.


Namun perjalanan AKMR tak pernah mudah. Bergantinya kepala daerah di tingkat provinsi menjadi duri dalam daging yang menghambat kontinuitas pendanaan dan perhatian. Ketika awalnya pemerintah daerah berkomitmen menyokong pembangunan kampus AKMR di Jalan Garuda Panam, semangat itu tampak nyata dalam bentuk fisik bangunan. 


Namun, di tengah jalan, proyek pembangunan terhenti. Kampus megah yang diimpikan berubah menjadi bangunan mangkrak—sunyi tanpa aktivitas, menyisakan mimpi yang tertahan.


Vakumnya AKMR selama beberapa tahun terakhir menjadi cermin pahit dari rapuhnya komitmen terhadap sektor kebudayaan. Dalam hiruk-pikuk pembangunan infrastruktur fisik dan ekonomi, pendidikan seni terpinggirkan. Lembaga seperti AKMR, yang mestinya dijaga sebagai penjaga ruh Melayu, justru dilupakan.


Kini, dengan ditunjuknya Dr. Syafi’i sebagai Direktur AKMR, harapan itu tampak kembali menyala. Sosok Syafi’i bukan orang asing dalam dunia pendidikan Riau. Sebagai mantan Ketua PGRI Provinsi Riau, ia dikenal berpengalaman, tenang, dan penuh dedikasi. 


Ia bukan hanya birokrat pendidikan, melainkan juga pemikir yang memahami pentingnya kesenian sebagai bagian integral dari pembentukan karakter dan kebangsaan.


Langkah pertamanya untuk merekrut dosen dan staf administrasi patut diapresiasi sebagai upaya sistematis membangunkan institusi ini dari tidurnya. Syafi’i tak hanya ingin membenahi sistem pengajaran, tetapi juga ingin menghidupkan kembali ekosistem seni di dalam dan di luar kampus. 


Ia percaya, kebangkitan AKMR tidak cukup hanya dengan merehabilitasi gedung—yang lebih penting adalah membangun kembali semangat kolektif sivitas akademika dan masyarakat seni Riau.


AKMR adalah laboratorium budaya. Dalam perspektif filosofis, kampus ini bukan sekadar tempat belajar formal, tetapi juga ruang kontemplasi dan penciptaan makna. Ia menjembatani antara tradisi dan modernitas, antara akar dan arah, antara lokalitas dan universalitas.


Budaya Melayu yang menjadi dasar orientasi kampus ini bukanlah entitas statis. Ia dinamis, mampu berdialog dengan zaman. Di sinilah AKMR menemukan urgensinya: menciptakan seniman dan intelektual yang bukan hanya menguasai teknik artistik, tetapi juga memahami konteks sosial dan nilai-nilai budaya yang mereka representasikan.


Dalam konteks ini, AKMR juga memikul misi kebangsaan. Di tengah derasnya arus globalisasi dan homogenisasi budaya, lembaga seperti AKMR menjadi benteng penting yang menjaga keunikan budaya lokal. Ia memperkuat identitas kebudayaan bangsa Indonesia yang bhinneka, sekaligus memperkaya khazanah kesenian nasional.


Namun, tugas berat masih menanti. Bangunan yang mangkrak tetap menjadi persoalan nyata. Tanpa dukungan konkret dari Pemerintah Provinsi Riau, kebangkitan AKMR akan setengah hati. 


Gubernur Riau dan jajarannya harus melihat pendidikan seni bukan sebagai beban anggaran, tetapi sebagai investasi peradaban. Sejarah membuktikan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai seni dan budayanya.


Sudah saatnya Pemerintah Provinsi Riau menghidupkan kembali komitmen yang pernah diucapkan dengan kesungguh-sungguhan. Pembangunan ulang kampus, alokasi anggaran berkelanjutan, dan regulasi yang menjamin keberlangsungan AKMR adalah keharusan. 


Selain itu, sinergi dengan lembaga-lembaga kebudayaan lain seperti Dewan Kesenian Riau, LAM Riau, dan komunitas seniman muda serta pengusaha perlu diperkuat agar kampus ini tak menjadi menara gading, tapi benar-benar menjadi pusat kreativitas publik.


Kebangkitan AKMR juga harus disambut dengan partisipasi aktif masyarakat. Para orang tua, pelajar, tokoh adat, seniman dan budayawan mesti melihat AKMR sebagai milik bersama. Seperti pepatah Melayu, “tak lapuk dek hujan, tak lekang dek panas”, maka warisan budaya yang dirawat lewat pendidikan seni harus terus dijaga lintas generasi.


Sebagaimana kampus-kampus seni terkemuka lain di Indonesia seperti ISI Yogyakarta atau IKJ Jakarta, AKMR memiliki potensi untuk menjadi poros pendidikan seni Melayu yang diperhitungkan. Letaknya yang strategis di jantung kebudayaan Melayu di Sumatera membuatnya memiliki nilai tambah tersendiri. 


Dari kampus ini, bukan mustahil lahir seniman besar, pemikir budaya, sutradara film, penari istana, komposer musik etnik, atau penulis naskah panggung berkelas dunia.


Dari Jalan Garuda, dari gedung yang belum rampung, dari pesan WhatsApp yang tersebar diam-diam, dari semangat Syafi’i dan tim kecilnya, sebuah kebangkitan sedang dipersiapkan. Bukan untuk nostalgia, tapi untuk masa depan. AKMR bukan sekadar institusi—ia adalah medan perjuangan kebudayaan.


Dan jika sungguh AKMR bangkit lagi, maka itu bukan hanya kemenangan bagi seniman Riau, tapi juga kemenangan bagi marwah Melayu. ***

Penulis Azmi Bin Rozali
Editor Lukman Hakim
  • BERITA TERKAIT

  • TAG TERKAIT