Portal Berita Online


Saya terhenyak, sedih, miris dan sekaligus tertawa getir membaca komen seorang Generasi Z terhadap sebuah utas yang membahas betapa sulitnya generasi Z mencari pekerjaan. Mereka dituntut multi talenta, gaji rendah beban berat, dan nyaris tidak ada peluang kerja. Pun kalau ada lowongan yg menggiurkan di BUMN sudah dikunci oleh gurita Ordal. Di tengah obrolan yang isinya penuh air mata dan keluhan itu, anak muda ini menulis dengan kepasrahan level dewa: "Hidup ini berat sekali. Kenapa aku tidak diciptakan menjadi kucingnya Wowo aja."
"Wowo" yang dia maksud tentu saja adalah Presiden Prabowo Subianto. Sementara sang kucing legendaris, siapa lagi kalau bukan Bobby Kertanegara. Seekor anabul putih-belang yang sukses meraih kemapanan finansial dan status sosial tanpa pernah sekalipun merasakan pahitnya dighosting HRD.
Bagi yang awam, komentar ini mungkin cuma dianggap angin lalu atau sekadar cari perhatian. Tapi kalau kita mau jujur dan melihat realita di luar sana, omongan ngasal ini sebenarnya adalah sebuah visi karier yang sangat masuk akal bagi anak muda zaman sekarang.
Coba kita bedah secara adil. Mengapa posisi sebagai kucing istana terasa jauh lebih menjanjikan daripada jadi sarjana fresh graduate yang lulus dengan predikat cum laude?
Pertama, mari lihat syarat lowongan kerja manusia yang makin hari makin tidak ramah logika. Sering kali untuk posisi staf magang saja, perusahaan minta kualifikasi yang luar biasa muluk: usia maksimal 22 tahun, pengalaman kerja minimal 3 tahun, menguasai lima bahasa pemrograman, punya skill desain, dan bersedia digaji pakai ucapan "terima kasih" alias unpaid internship. Bebannya sudah mirip direktur, tapi haknya setara relawan.
Bandingkan dengan Bobby Kertanegara. Persyaratan kerja untuk menduduki posisinya sangat bersahabat bagi pelamar kerja. Cukup punya bulu yang bersih, jago mendengkur (purring) di frekuensi yang menenangkan, dan hobi tidur siang di atas sofa premium. Bobby tidak perlu pusing melampirkan sertifikat TOEFL dengan skor 600, tidak perlu merapikan portofolio estetik di Canva, dan yang paling penting, dia tidak perlu berbohong saat wawancara kerja ditanya: "Apa kelemahan terbesar Anda?" Kelemahan Bobby cuma takut petir, dan itu justru bikin dia kelihatan makin menggemaskan di mata bos besar.
Kedua, urusan fasilitas dan tunjangan kerja. Ketika pekerja muda manusia harus adu sikut di kereta komuter subuh-subuh demi mengejar absen biar gaji tidak dipotong, Bobby menikmati fasilitas transportasi berupa stroller khusus berharga jutaan yang didorong langsung oleh ajudan. Ketika manusia pusing memikirkan potongan iuran kesehatan yang naik terus tapi pelayanannya begitu-begitu saja, Bobby punya tim medis pribadi yang siap siaga 24 jam untuk memeriksa kesehatan bulu dan kuku cantiknya.
Tidak ada istilah burnout, stres korporat, atau cemas memikirkan tagihan bulanan dalam kamus hidup Bobby. Satu-satunya "tugas negara" yang harus dia lakukan adalah duduk dengan anggun di ruang tamu istana, membiarkan para menteri, duta besar, atau selebritas dunia mengelus kepalanya. Tugas yang sangat berat, bukan? Sebuah beban kerja yang bagi anak muda zaman sekarang rasanya sudah seperti surga dunia.
Komentar getir di media sosial itu bukan sekadar lelucon kosong. Itu adalah jeritan keputusasaan massal yang dibungkus rapi dengan komedi gelap (dark humor). Ketika jalur formal untuk menjadi manusia produktif sudah tertutup rapat oleh tembok algoritma aplikasi pencari kerja yang kejam, menjadi hewan peliharaan penguasa tiba-tiba berubah jadi cita-cita alternatif yang sangat logis.
Jadi, kalau besok pagi Anda melihat anak atau adik Anda mulai belajar mengeong dengan fasih di pojokan kamar, jangan buru-buru panik. Mereka tidak sedang kehilangan akal sehat. Mereka cuma sedang memperbarui Curriculum Vitae (CV) untuk melamar jadi penerus Bobby Kertanegara. Siapa tahu, nasib menjadi anabul istana jauh lebih sejahtera ketimbang jadi manusia kantoran yang menu sarapan paginya adalah kecemasan masa depan.
Komedi getir ini adalah tamparan keras bagi kita semua tentang runtuhnya kesehatan mental generasi muda. Mereka dituntut mandiri dan sukses instan, padahal gerbang peluang yang katanya terbuka lebar, faktanya sudah dikunci rapat dari dalam oleh gurita Ordal (Orang Dalam).
Berhentilah memberi vonis bahwa mereka generasi pemalas. Mereka adalah anak-anak kita yang sedang bertarung di sistem yang tidak adil dan mereka sangat butuh dukungan nyata kita semua. Yuk, bagikan tulisan ini jika Anda sepakat bahwa sistem rekrutmen kita butuh dibersihkan dari lingkaran Ordal!