Portal Berita Online


Banyak orang Pekanbaru tinggal di Panam. Lewat Panam tiap hari. Macet di Panam hampir tiap jam. Tapi sedikit yang pernah berhenti sejenak untuk bertanya: Panam itu sebenarnya apa?
Nama itu terasa biasa karena terlalu sering diucapkan. Padahal, jika ditarik sedikit ke belakang, Panam justru lebih jujur menceritakan sejarah Pekanbaru dibanding banyak pidato resmi tentang pembangunan daerah.
Panam bukan nama Melayu lama. Ia tidak ditemukan dalam hikayat, tidak melekat pada sungai, tidak pula bersandar pada nama tokoh adat. Bunyi katanya justru terasa asing. Seperti datang dari luar. Dan memang, sejarahnya berawal dari luar.
Cerita yang hidup di Pekanbaru sejak lama menyebut Panam berasal dari Pan American. Awalnya terdengar seperti cerita ringan. Namun anehnya, cerita itu tidak pernah mati. Ia berulang, konsisten, dan diceritakan lintas generasi. Dari warga lama, dari sopir, dari orang-orang yang tidak merasa sedang “membuat sejarah”.
Secara fakta, Pan American Petroleum memang bukan perusahaan fiktif. Ia pemain besar migas Amerika. Dan yang sering luput dicatat: pernah beroperasi di Indonesia. Tepatnya pada awal 1960-an, saat Indonesia sedang serius-seriusnya menata ulang kedaulatan minyak.
Tahun 1962, pemerintah Indonesia menandatangani kontrak dengan Pan American Indonesia Oil Company, afiliasi Standard Oil of Indiana. Kontrak ini disahkan melalui peraturan negara. Resmi. Legal. Bagian dari strategi nasional pasca mengakhiri sistem konsesi warisan kolonial. Perusahaan asing masih boleh masuk, tapi negara tidak mau lagi jadi penonton.
Riau berada di jantung semua itu. Minas dan Duri sudah dikenal dunia. Infrastruktur migas tumbuh. Pekanbaru menjadi kota penyangga industri energi. Bukan kota pinggiran. Bukan kota kecil. Tapi simpul penting dalam peta minyak global.
Dalam praktik migas, penamaan tempat tidak pernah romantis. Sangat fungsional. Ada base camp, ya dinamai. Ada jalur logistik, ya disebut. Dan biasanya, nama perusahaanlah yang dipakai. Pan American terlalu panjang. Disingkat jadi Pan Am. Lidah lokal kemudian memadatkannya lagi. Jadilah Panam.
Tidak ada peresmian. Tidak ada papan nama dari pemerintah. Nama itu hidup karena dipakai. Dipakai pekerja. Dipakai warga. Dipakai sopir. Lalu menetap.
Benar, hingga hari ini tidak ada dokumen resmi negara yang secara eksplisit menulis: Panam berasal dari Pan American Petroleum. Arsip memang sunyi. Tapi sejarah tidak selalu cerewet di atas kertas. Ia sering justru paling jujur dalam ingatan kolektif.
Jika satu orang bercerita, kita boleh ragu. Tapi jika satu kota mengulang cerita yang sama selama puluhan tahun, itu bukan kebetulan. Itu pengalaman sosial yang pernah nyata.
Yang menarik, perusahaan minyak bisa pergi, tapi nama tinggal. Pan American sudah lama angkat kaki. Sumur berganti pengelola. Kontrak berakhir. Tapi Panam tetap ada. Masuk peta kota. Masuk alamat rumah. Masuk KTP.
Kini Panam dikenal sebagai kawasan pendidikan dan permukiman. Orang-orang lupa minyaknya. Tapi tanpa sadar masih menyebut namanya setiap hari. Itulah ironi yang halus.
Panam adalah fosil linguistik. Jejak bahasa dari zaman ketika minyak menentukan arah kota, menentukan arus manusia, dan menentukan siapa yang diuntungkan.
Dan di sinilah bagian yang agak menyentil.
Kita sering mendengar elit migas bicara soal kontribusi, soal dana bagi hasil, soal tanggung jawab sosial. Pidatonya rapi. Angkanya besar. Tapi sejarah kota ini justru lebih jujur tersimpan di nama jalan dan kawasan—bukan di laporan tahunan.
Panam mengingatkan bahwa Riau pernah memberi sangat banyak. Bahwa Pekanbaru tumbuh di atas energi yang diekstraksi. Dan bahwa yang tertinggal sering kali hanya nama, sementara manfaatnya entah ke mana.
Nama Panam tidak pernah ikut rapat elite. Tapi ia tetap berdiri di peta kota. Diam. Bandel. Tidak bisa dipoles.
Kadang, satu nama tempat lebih jujur dari seribu seminar tentang migas dan kesejahteraan.
Namanya: Panam.[naz]