Portal Berita Online


JAUH sebelum masyarakat mengenal minyak tanah, apalagi LPG, dapur-dapur Melayu di pesisir timur Sumatera, masyarakat bertahan dari belahan batang bakau yang dijemur, disusun, lalu dibakar perlahan.
Ia bukan sekadar bahan bakar, ia adalah penopang hidup.
Dari generasi ke generasi, hubungan itu tidak berubah: bakau menjadi energi, sekaligus ekonomi.
Kayu bakau tidak hanya dibelah untuk dapur sendiri. Ia menjadi komoditas. Diangkut dengan perahu layar, dijual sebagai kayu teki ke Singapura dan
Malaysia, digunakan untuk konstruksi lokal, atau disalurkan ke panglong untuk diolah menjadi arang. Rantai ini telah berlangsung puluhan tahun;sunyi, stabil, dan nyaris tak tersentuh kebijakan besar.
Di hilir, arang dari Meranti bergerak lebih jauh. Ia menyeberang ke Malaysia, lalu kembali berlayar ke Eropa, Jepang, hingga India. Produk sederhana dari hutan bakau itu diam-diam menjadi bagian dari pasar global.
Namun di hulu, wajahnya tetap sama: sampan kecil, kampak di tangan, dan tubuh-tubuh berpeluh yang bergantung pada ritme pasang surut.
---
Ada ratusan panglong arang berdiri di Meranti. Sebagian besar memang dikuasai oleh “toke” yang berbaju koperasi, tetapi tidak sedikit pula panglong kecil milik rakyat biasa. Di balik dapur arang itu, ada mata rantai yang lebih sunyi: para penebang bakau.
Mereka bekerja dengan modal yang hampir tak berubah sejak dulu - sampan dan kampak. Dalam sehari, mereka menebang sekitar 15–20 batang bakau, menyesuaikan ukuran dapur arang yang akan menampungnya. Kayu-kayu itu lalu ditimbang, dihargai per kilo, sekitar 200–300 rupiah. Di ujung hari, mereka membawa pulang Rp150–200 ribu; cukup untuk bertahan, tak pernah cukup untuk beranjak.
Ini bukan sekadar pekerjaan. Ini satu-satunya keterampilan yang mereka miliki. Mereka tidak mengenal industri lain. Mereka tidak dibekali alternatif.
Maka ketika penertiban datang - dengan alasan yang tak sepenuhnya bisa dibantah; yang pertama kali terdengar bukan suara dapur arang yang berhenti, tetapi jeritan yang tertahan, karena asap lenyap dari dapur rakyat.
Dua pihak paling terdampak: penebang bakau dan pemilik panglong tradisional.
Penertiban itu, bagi mereka, terasa seperti memutus nadi kehidupan.
---
Namun kita tidak boleh menutup mata pada sisi lain dari cerita ini.
Bakau yang ditebang tanpa kendali telah menyisakan luka ekologis yang nyata. Abrasi menggerus daratan, perlahan tapi pasti. Garis pantai mundur, dan bersama itu, hilang pula perlindungan alami dari gelombang.
Kita tahu itu. Mereka pun tahu itu.
Bahkan, di tengah keterbatasan, para penebang bakau tradisional sebenarnya menyimpan satu bentuk kearifan yang jarang disorot: setiap menebang, mereka menanam kembali. Tidak dalam skala besar, tidak dengan pendekatan ilmiah, tetapi dengan kesadaran sederhana; bahwa jika bakau habis, hidup mereka juga selesai.
Di titik ini, kita melihat ironi yang pahit.
Mereka yang dituduh merusak, justru memiliki naluri menjaga.
Sementara kebijakan yang datang untuk menyelamatkan, terasa datang tanpa jembatan.
---
Masalahnya, sejak awal, ini bukan soal benar atau salah semata. Ini soal cara.
Penertiban panglong arang mungkin benar secara konsep. Lingkungan memang harus diselamatkan. Mangrove adalah benteng alami yang tidak tergantikan.
Tetapi kebenaran yang tidak disertai jalan keluar, sering kali berubah menjadi ketidakadilan.
Apa yang terjadi di Meranti menunjukkan satu kelemahan klasik kebijakan kita: keberanian untuk melarang, tanpa kesungguhan untuk mengalihkan.
Masyarakat yang selama puluhan tahun hidup dari bakau, tiba-tiba diminta berhenti.
Namun tidak diberi waktu untuk bertransisi.
Tidak diberi keterampilan baru.
Tidak diberi kepastian pengganti.
Seolah-olah, mereka diminta memilih antara menyelamatkan alam… atau menyelamatkan keluarga mereka sendiri.
Itu pilihan yang tidak manusiawi.
---
Kita membutuhkan cara pandang yang lebih jujur dan lebih berani.
Bahwa menyelamatkan mangrove adalah keharusan. Tetapi menyelamatkan manusia yang hidup darinya juga kewajiban.
Keduanya tidak boleh dipertentangkan.
Solusi tidak bisa berhenti pada penertiban. Ia harus bergerak ke arah transisi: memberi pelatihan keterampilan baru, membuka akses ke sektor ekonomi lain, atau bahkan mengembangkan skema pengelolaan mangrove berbasis masyarakat - di mana mereka tidak lagi menjadi penebang liar, tetapi penjaga yang dibayar untuk merawat.
Program rehabilitasi bakau bisa menjadi sumber penghidupan baru, jika dirancang dengan serius.
Panglong arang bisa diarahkan, dibatasi, dan diawasi - bukan dimatikan seketika.
Karena pada akhirnya, kebijakan yang baik bukan hanya yang menyelamatkan alam, tetapi juga yang menjaga martabat manusia.
---
Di Meranti hari ini, yang padam bukan hanya tungku-tungku arang.
Yang ikut redup adalah harapan orang-orang kecil yang selama ini hidup dalam senyap.
Kita tidak boleh membiarkan mereka menghilang dari cerita, hanya karena mereka tidak punya suara.
Sebab di balik setiap batang bakau yang ditebang, ada perut yang harus diisi.
Dan di balik setiap kebijakan yang ditegakkan, ada tanggung jawab untuk memastikan - tidak ada yang ditinggalkan.
Kita tidak boleh memilih antara bakau atau manusia.
Kita harus menemukan cara untuk menyelamatkan keduanya. []