Portal Berita Online

PEKANBARU--Harga minyak goreng kemasan Minyakita di Pekanbaru dilaporkan meroket hingga Rp 19.000- Rp 20.000 per liter, jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) pemerintah yang ditetapkan sebesar Rp 15.700 per liter.
Pemerintah Kota Pekanbaru langsung bergerak cepat dengan memanggil sejumlah distributor besar serta menggelar rapat koordinasi bersama Satgas Pangan, Perum Bulog, dan para produsen untuk menelusuri penyebab lonjakan harga tersebut.
Dari hasil pembahasan, diketahui adanya penurunan alokasi pasokan dari produsen, dari sekitar 35.000 dus menjadi 20.000 dus per bulan. Kondisi ini diduga turut memengaruhi ketersediaan di pasar, meski harga di tingkat awal distribusi masih diklaim berada di kisaran HET.
Perum Bulog menyebut distribusi Minyakita ke mitra masih berjalan dalam program stabilisasi harga dengan harga sekitar Rp 14.500 per liter. Namun, proses penyaluran yang bertahap serta rantai distribusi yang panjang diduga membuat harga di tingkat pengecer melonjak.
Pemko Pekanbaru menegaskan akan menelusuri secara menyeluruh alur distribusi untuk menemukan titik terjadinya kenaikan harga. Pemerintah juga menekankan pentingnya transparansi data dari seluruh produsen dan distributor agar stabilitas harga pangan di masyarakat dapat segera dipulihkan.
''Segera kita tindaklanjuti untuk penelusuran terlebih dahulu dengan memastikan alokasi di tingkat distributor. Kita akan bekerja sama dengan kepolisian untuk memastikannya,'' tegas Pelaksana Harian Asisten II Setdako Pekanbaru Zulhelmi Arifin saat memimpin rapat, Selasa (28/4/2026).
Perwakilan PT Wilmar Nabati mengungkapkan adanya perubahan strategi, di mana pada bulan ini mereka mengalokasikan 100 persen produksi Minyakita melalui Perum Bulog. Namun, diakui terjadi penurunan jumlah alokasi secara total, dari sebelumnya 35.000 dus menjadi 20.000 dus per bulan untuk wilayah tersebut.
Wakil Pemimpin Wilayah Bulog Riau Kepri Ria Sartika menjelaskan bahwa pihaknya melepas Minyakita ke mitra dengan harga Rp 14.500 per liter untuk program stabilisasi harga. Dengan harga tersebut, pedagang seharusnya masih bisa menjual sesuai HET Rp 15.700 dan tetap mendapatkan untung, meskipun proses penyaluran dilakukan secara bertahap bersamaan dengan bantuan pangan lainnya.
''Alhamdulillah, untuk kita di Riau, ketersediaan untuk Minyakita sudah mencukupi. Hanya saja untuk penyalurannya, dilakukan berproses, karena bantuan pangan bukan hanya minyak goreng, tapi juga ada beras,'' kata Ria.
Di sisi lain, PT Intibenua Perkasatama (Musim Mas Group) melaporkan bahwa mereka telah meningkatkan porsi pasokan ke Bulog menjadi 65 persen pada tahun 2026. Perusahaan juga merinci bahwa distribusi tetap berjalan melalui distributor resmi, di mana harga jual dari distributor tingkat pertama ke tingkat kedua diklaim masih berada di angka Rp 15.700.
Sebagai langkah penutup, Dinas Ketahanan Pangan Pekanbaru menekankan pentingnya transparansi data distribusi dari seluruh produsen dan pabrikan. Penelusuran data ini dianggap krusial untuk melacak di titik mana terjadi lonjakan harga yang tidak wajar, sehingga pemerintah dapat segera melakukan tindakan koreksi demi menstabilkan harga pangan di masyarakat.
''Kalau penugasan ke Bulog, itu sudah jelas bisa di-trace datanya ke mana penyalurannya. Sementara yang lain, sejauh ini kita tidak mengetahui datanya, sehingga tidak tahu, alokasi yang ada di Riau ini dari mana saja asalnya, dan ke mana penyalurannya,'' ujar Kabid Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Pekanbaru Dinal Husna. [rr/mcr]