Portal Berita Online

Dari kampung terpencil di kaki Bukit Barisan hingga gelanggang kekuasaan dan intelektual, Dr. drh. H. Chaidir, MM kembali mendapat amanah memimpin Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR) periode 2025–2030. Dalam sosoknya, masyarakat Riau berharap suara mereka tetap nyaring dan terdengar di pusat kekuasaan.
Di tengah keraguan publik terhadap elite dan representasi tokoh masyarakat yang sering kehilangan keberpihakan, Musyawarah Besar Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR) beberapa waktu lalu justru menghadirkan harapan. Dalam suasana kekeluargaan yang khas Melayu dan penuh semangat kebersamaan, para pemuka masyarakat Riau kembali mempercayakan tongkat estafet kepemimpinan organisasi tersebut kepada sosok yang tak asing lagi: Dr. drh. H. Chaidir, MM.
Bagi sebagian orang, nama Chaidir identik dengan ketenangan. Tapi di balik wajah teduhnya, terpatri kegigihan seorang pejuang sunyi yang telah lama menanam akar di jantung Riau. Ia bukan hanya pernah dua periode menjabat sebagai Ketua DPRD Provinsi Riau (1999–2008), tapi juga menjelma menjadi suara nurani publik yang konsisten menyuarakan keadilan dan keberpihakan, terutama terhadap masyarakat Melayu yang secara historis dan struktural kerap berada di sisi pinggir.
Dari Kaki Bukit Barisan
Chaidir lahir di Pemandang, sebuah kampung kecil di kaki Bukit Barisan, Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rokan Hulu, pada 29 Mei 1952. Anak dari pasangan petani sederhana, H. Imam Lansam dan Hj. Saudah, sejak kecil Chaidir sudah mengakrabi kehidupan desa yang bersahaja. Pendidikan dasar hingga menengah ia tempuh di kampung dan kota-kota kecil di Riau: SD di Lubuk Bendahara (1965), SMP di Ujung Batu (1968), kemudian melanjutkan ke Sekolah Asisten Apoteker Ikasari dan SMA Setia Dharma di Pekanbaru.
Tak puas berhenti di situ, Chaidir menembus bangku kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan lulus pada 1978. Di masa itu, menyelesaikan pendidikan tinggi di luar daerah, apalagi di universitas ternama, adalah sebuah pencapaian besar.
Jejak Intelektual dan Internasional
Tak hanya aktif di organisasi mahasiswa, Chaidir muda juga mulai menulis dan menyampaikan pemikirannya lewat berbagai media. Kepiawaiannya dalam menyatukan nalar kritis dengan nilai-nilai lokal membuatnya mudah diterima dalam banyak kalangan.
Pendidikan lanjut pun ia tempuh dengan tekun: Magister Manajemen dari Universitas Padjadjaran, Bandung, dan gelar doktor dari Universitas Pasundan, yang diselesaikannya dengan predikat cum laude pada 2018 di usia 65 tahun. Penghargaan ini menjadi penanda bahwa intelektualitas bukan semata milik mereka yang muda, tetapi milik mereka yang tidak pernah lelah belajar.
Chaidir juga mengenyam pendidikan singkat di Australia (Queensland University dan Jamescook University, 1986), serta di Italia (IFOA Reggio Emilia, 1990–1991). Jejak perjalanannya lintas negara mencerminkan luasnya cakrawala pikir dan jejaring yang ia bangun selama ini.
Politik yang Membumi
Kiprah Chaidir di panggung politik daerah mencapai puncaknya saat menjabat sebagai Ketua DPRD Provinsi Riau selama dua periode. Dalam masa-masa transisi reformasi yang penuh gejolak, Chaidir dikenal sebagai pemimpin parlemen yang tenang, bijak, dan mampu menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah.
Pasca-DPRD, kariernya terus menanjak. Di Jakarta, ia dipercaya menjadi Ketua Badan Perwakilan Anggota AJB Bumiputera 1912, bahkan lolos uji kelayakan dan kepatutan di OJK untuk menjabat sebagai Komisaris Utama lembaga asuransi itu.
Namun yang menarik, di tengah reputasi nasional itu, Chaidir tidak pernah berpaling dari tanah kelahirannya. Ia kembali dan mengabdikan diri di berbagai bidang: menjadi Ketua Dewan Pembina Yayasan Politeknik Caltex Riau (PCR), anggota Dewan Pembina Yayasan Universitas Pasir Pengaraian, anggota Dewan Pengawas BLU UIN Sultan Syarif Kasim Riau, dan Ketua Dewan Perpustakaan Provinsi Riau.
Mengawal Nurani Riau
FKPMR bukan organisasi biasa. Ia adalah forum kebatinan, intelektual, dan politik yang menyatukan para pemuka masyarakat Riau lintas bidang dan generasi. Di tengah tantangan zaman, forum ini menjaga agar denyut aspirasi masyarakat tidak hanya terdengar, tetapi juga diperjuangkan.
Kembalinya Chaidir sebagai Ketua FKPMR 2025–2030 adalah sinyal kuat: masyarakat Riau ingin tokoh yang bukan sekadar punya nama, tetapi punya nurani, pemahaman sejarah, serta kecintaan yang tulus pada kampung halamannya. FKPMR di bawah kepemimpinan Chaidir diharapkan mampu menjadi pengontrol kebijakan yang efektif terhadap Pemerintah Provinsi Riau dan Pemerintah Pusat, terutama terkait isu-isu struktural yang melemahkan masyarakat Melayu.
"Kita butuh figur yang tidak terjebak euforia kekuasaan, tapi tetap tenang dan berpikir jernih. Di tangan Bang Chaidir, suara kita bisa lebih terarah," kata salah satu peserta Mubes FKPMR.
Mengajar, Menulis, Mengabdi
Di tengah kesibukan sebagai tokoh masyarakat dan pemimpin organisasi, Chaidir tak berhenti mengajar. Ia aktif sebagai dosen di Pascasarjana Universitas Lancang Kuning dan Universitas Riau, serta mengajar di S1 Universitas Pasir Pengaraian.
Semangat intelektualnya juga dituangkan lewat tulisan. Beberapa buku telah ia terbitkan, dan ia kerap menjadi pembicara dalam berbagai forum seminar dan kuliah umum. Dalam setiap paparannya, terlihat betul ia ingin membentuk kesadaran kritis, terutama pada generasi muda Riau.
Warisan Keteladanan
Kisah hidup Chaidir adalah cermin dari ketekunan dan konsistensi. Dari anak kampung di Pemandang hingga menjadi tokoh pemuka masyarakat dengan rekam jejak nasional, Chaidir menunjukkan bahwa pemimpin tidak harus berteriak, tapi harus mampu mendengar. Tidak harus selalu tampil, tapi harus mampu memberi makna.
Dalam konteks politik Riau yang sarat tarik-menarik kepentingan, keberadaan FKPMR di bawah kendali tokoh seperti Chaidir menjadi harapan tersendiri. Ia diharapkan mampu menjaga nalar kritis masyarakat, memperjuangkan kebijakan yang berkeadilan, dan membela mereka yang kerap tersisih dari proses pengambilan keputusan.
Di tengah derasnya arus pragmatisme dan komersialisasi ruang publik, Chaidir hadir sebagai pengingat: bahwa amanah adalah kehormatan, dan kepercayaan adalah tanggung jawab sejarah. ***