SABTU, 14-3-2026


IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial
Ketika Shiraz Bertemu Selat Malaka

Ketika Shiraz Bertemu Selat Malaka

Jejak Persia dalam Bahasa dan Jiwa Melayu


Tidak semua sejarah ditulis di batu prasasti atau kitab-kitab tebal. Sebagian sejarah justru hidup diam-diam dalam kata-kata yang kita ucapkan setiap hari.


Orang Melayu menyebut pelabuhan dengan kata bandar, kapten kapal dengan nakhoda, dan sosok pemberani dengan pahlawan. Dalam tradisi lama bahkan azan pernah disebut bang. Kata-kata ini terasa begitu akrab, seolah lahir dari rahim bahasa Melayu sendiri. Padahal sebagian di antaranya berasal dari bahasa Persia.


Jejak kecil ini membawa kita pada sebuah kisah yang jauh lebih luas: pertemuan dua dunia yang dipisahkan ribuan kilometer - antara kota Shiraz di Persia dan jalur perdagangan sibuk Selat Malaka di Asia Tenggara.


Pada abad pertengahan, Selat Malaka merupakan salah satu simpul perdagangan paling ramai di dunia. Kapal-kapal dari Arab, India, Persia, dan Cina bertemu di jalur sempit ini, membawa rempah-rempah, sutra, keramik, dan berbagai komoditas berharga. Namun kapal-kapal itu tidak hanya membawa barang dagangan. Mereka juga membawa bahasa, cerita, dan gagasan.


Kata bandar berasal dari bahasa Persia yang berarti kota pelabuhan. Kata nakhoda berasal dari nakhudā, pemimpin kapal. Sementara syahbandar, jabatan penting dalam pelabuhan kerajaan Melayu, secara harfiah berarti “raja pelabuhan”. Bahasa Melayu menyerap kata-kata ini bukan melalui buku atau kamus, melainkan melalui pergaulan sehari-hari di pelabuhan.


Namun pengaruh Persia di dunia Melayu tidak berhenti pada perdagangan. Ia juga masuk melalui jalur yang lebih halus dan mendalam: sastra dan tasawuf.


Pada masa itu Persia merupakan salah satu pusat perkembangan sastra sufi di dunia Islam. Penyair besar seperti Jalaluddin Rumi dan Hafiz Shirazi menulis puisi yang menggambarkan perjalanan jiwa menuju Tuhan. Puisi mereka penuh dengan metafora indah: taman, anggur, perjalanan batin, dan kerinduan kepada Sang Kekasih Ilahi.


Menariknya, gema simbolisme ini juga terdengar dalam sastra Melayu.


Penyair sufi besar Nusantara Hamzah Fansuri menulis syair-syair yang sarat dengan pencarian spiritual, perjalanan ruhani, dan gagasan tentang fana dalam cinta Ilahi. Dalam puisinya, perjalanan manusia menuju Tuhan digambarkan sebagai sebuah pengembaraan batin - tema yang sangat dekat dengan tradisi puisi sufi Persia.


Sastra Melayu klasik dengan demikian tidak lahir dalam ruang tertutup. Ia tumbuh dalam jaringan intelektual luas yang menghubungkan dunia Melayu dengan pusat-pusat pemikiran Islam di Samudra Hindia.


Ulama besar Nuruddin al-Raniri, yang berkarya di Aceh pada abad ke-17, juga menunjukkan betapa kuatnya arus intelektual lintas wilayah ini. Melalui karya-karya keagamaannya dalam bahasa Melayu, ia ikut membentuk tradisi intelektual Islam di Nusantara - tradisi yang tidak terpisah dari jaringan ulama di Persia, India, dan Timur Tengah.


Sering kali kita membayangkan bahwa Islam datang ke Nusantara langsung dari Jazirah Arab. Gambaran ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak sepenuhnya lengkap. Islam yang tiba di Nusantara telah menempuh perjalanan panjang: melewati Persia, berkembang di India, lalu berlayar bersama para pedagang dan ulama menuju Asia Tenggara.


Dalam perjalanan itu berbagai tradisi intelektual ikut terbawa. Arab memberi fondasi teologi dan kitab suci. Persia memberi warna sastra dan spiritualitas. India menjadi jembatan yang menghubungkan semuanya dengan dunia Melayu.


Bagi masyarakat pesisir di sepanjang Selat Malaka, laut bukan sekadar ruang geografis. Ia adalah jalur pertemuan peradaban. Angin musim membawa kapal-kapal dari jauh, dan bersama kapal-kapal itu datang pula kata-kata, cerita, dan gagasan baru.


Sebagian dari kata-kata itu masih hidup hingga hari ini - tanpa kita sadari asal-usulnya. Ketika kita mengucapkan kata bandar, nakhoda, atau pahlawan, kita sebenarnya sedang mengulang potongan kecil dari sejarah panjang itu.


Bahasa ternyata bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah ingatan panjang dari perjalanan peradaban manusia - dan dalam bahasa Melayu, sebagian dari ingatan itu datang dari jauh, dari Persia, ketika Shiraz bertemu Selat Malaka.[]