SABTU, 6-12-2025


IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial
Kanda Dewan
Ilustrasi.

Kanda Dewan

Di republik ini, kita selalu punya stok humor tanpa perlu mencarinya terlalu jauh. Cukup tengok gedung dewan di tingkat daerah dan kita akan menemukan fenomena yang kini pelan-pelan menjelma budaya kecil: "Kanda Dewan".  Pun, judul tulisan ini sebenarnya menjiplak dari reels video yang sedang viral di TikTok yang menjadi satire dari gaya hidup segelintir anggota dewan.


Sebuah istilah yang terdengar manis, romantis, bahkan sedikit melodramatis, tetapi justru menjadi satire paling telak untuk menggambarkan kegagapan sebagian pejabat lokal dalam menghadapi sorotan baru, fasilitas baru, dan tentu saja, status sosial baru.


“Kanda Dewan” bukanlah jabatan resmi. Ia lahir dari percakapan iseng di media sosial, tumbuh sebagai meme, dan berkembang jadi slang di kolom komentar. Tapi di balik kelucuannya, tersimpan kritik serius tentang bagaimana para politisi lokal mengelola jabatan dan citra diri. Fenomena ini adalah cermin kecil dari cara kita memandang kekuasaan, dan cara kekuasaan membentuk perilaku seseorang hanya dalam hitungan minggu sejak pelantikan.


Ciri-ciri seorang “Kanda Dewan” nyaris mudah dikenali, seolah ada modul pelatihan tidak tertulis yang diwariskan dari senior ke junior. Pertama tentu penampilan. Batik smoke dengan motif yang mengilap dan meriah, kancing yang tampak hampir tak mampu menahan dada penuh percaya diri, serta sepatu loafer kulit yang dipoles berkilap. Tak lupa pouch kulit- entah asli atau KW premium- yang ditenteng seperti jimat politik, seakan seluruh dokumen negara tersimpan di dalamnya. Dan parfum? Jangan ditanya. Aromanya biasanya tiba lima detik sebelum orangnya muncul.


Belum lengkap seorang “Kanda Dewan” jika tanpa ajudan yang tidak jarang jumlahnya lebih dari satu . Mereka berjalan cepat dengan gaya dan ekspresi serius yang seolah menimbang masa depan demokrasi nasional. Mereka tiba di lapangan upacara layaknya pahlawan kembali dari front pertempuran, dengan kamera ponsel warga sibuk merekam dan anak-anak sekolah melambai kagum, meski sebagian tidak tahu siapa yang sebenarnya datang.


Fenomena kanda dewanisme bukan sekadar soal gaya berlebihan. Ia adalah gejala sosial tentang kegagapan identitas. Banyak anggota dewan lahir dari masyarakat biasa: pedagang, pekerja swasta, tokoh lokal. Ketika mendadak masuk ke lingkungan yang penuh simbol kehormatan, terjadi tekanan sosial untuk “menyesuaikan diri”. Celakanya, penyesuaian itu sering terjadi dalam bentuk paling dangkal: penampilan, gaya bicara, dan tata langkah. Jabatan baru menuntut mereka tampak mentereng, tetapi pengalaman hidup yang sederhana kadang membuat transformasi itu menjadi canggung. Di sinilah publik menemukan kelucuannya.


Namun, kita tidak boleh berhenti pada tawa. Kanda dewanisme sebetulnya adalah bentuk kritik publik terhadap representasi pejabat yang lebih sibuk menunjukkan prestise ketimbang bekerja. Di banyak daerah, warga membutuhkan kehadiran wakil rakyat yang low-profile tapi efektif, bukan yang penuh gaya tapi kosong isi. Masyarakat sudah terlalu sering melihat pejabat yang pandai berpenampilan tetapi gagap dalam urusan mendengar suara rakyat.


Di sisi lain, fenomena ini menegaskan paradoks klasik dalam politik lokal: kekuasaan dianggap sebagai pengangkat derajat, bukan amanat tanggung jawab. Ketika status menjadi pusat gravitasi, perilaku pun mengikuti. Jika dulu datang ke pasar dengan sandal jepit dan kaos oblong, kini harus tampil dengan batik mahal dan ajudan lengkap, seakan-akan harga diri orang berubah seketika setelah menerima pin emas.


Budaya kanda dewanisme juga menunjukkan betapa kuatnya dorongan performatif dalam politik hari ini. Dunia digital mendorong semua orang tampil, bukan sekadar bekerja. Pejabat lokal pun ikut terjebak: jika tidak tampil elegan di TikTok, seolah tidak sedang menjalankan tugas negara. Banyak yang akhirnya hidup dalam dua dunia: dunia rapat yang sebenarnya dan dunia pencitraan yang dipertontonkan.


Di titik ini, kita patut bertanya: apakah gaya perlu sejauh itu? Atau justru kesederhanaan lebih pantas dipertahankan agar tidak menimbulkan jarak emosional dengan masyarakat?


Sejatinya, rakyat tidak menuntut banyak. Mereka tidak meminta gaya bak selebritas politik atau visual pejabat setara level nasional. Yang mereka butuhkan adalah kerja nyata, kedekatan sosial, dan kerendahan hati. Semua itu justru hilang ketika pejabat lebih sibuk berdandan daripada bekerja, lebih rajin memoles citra daripada memikirkan kebijakan.


Mungkin sudah saatnya kanda dewanisme dijadikan cermin bagi para pejabat: bahwa di era dimana rakyat semakin cerdas, gaya berlebihan bukan lagi sumber kehormatan, melainkan sumber humor. Sebaliknya, kesederhanaan dan kompetensi adalah dua hal yang tidak pernah gagal memikat kepercayaan publik.


Dan jika para “Kanda Dewan” ingin benar-benar dihormati, mungkin langkah pertama adalah melepas pouch KW, menurunkan sedikit kilau batik smoke, dan mulai tampil sebagai diri sendiri, bukan sebagai aktor yang lupa naskah di panggung politik daerah.


Karena pada akhirnya, rakyat hanya ingin satu: wakil yang bekerja sungguh-sungguh. Tidak lebih, tapi tentu saja tidak kurang. [naz]