Ketika Tradisi Melayu Menggema dari Kuantan ke Eropa

Pacu Jalur, Dikha, dan Panggung Dunia


Selasa, 8-7-2025


Pacu Jalur, Dikha, dan Panggung Dunia

Di tepian Sungai Kuantan yang tenang namun penuh sejarah, di bawah langit biru yang menyelimuti Taluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, suara tabuhan gendang dan sorak sorai penonton menggema: sebuah pertanda bahwa helat akbar Pacu Jalur telah dimulai. 


Tradisi yang telah berusia lebih dari dua abad ini, kini menjelma jadi sorotan dunia setelah seorang bocah 11 tahun, Rayyan Arkan Dikha, menjadi viral karena aksinya sebagai Togak Luan—anak yang berdiri gagah di haluan perahu Jalur—ditiru oleh para pemain sepak bola elite dunia.


Siapa sangka, di tengah riuh rendah konten TikTok yang didominasi tren global, muncul seorang anak dari Desa Pintu Gobang, Kecamatan Kari, yang mampu menggetarkan jagat maya internasional dengan gerak tubuhnya yang penuh kharisma dan kepercayaan diri. 


Klub-klub besar Eropa seperti PSG dan AC Milan memposting gaya pemain mereka meniru aksi Dikha—meniru gaya Togak Luan yang berdiri di ujung perahu, memperagakan gerak tubuh penuh semangat, seolah mengomando armada lajur panjang pendayung di belakangnya.


Anak Kampung yang Menjadi Ikon Global


Dikha, lahir pada 28 Desember 2014, adalah siswa kelas lima SD Negeri 13 Pintu Gobang. Anak dari pasangan Jufriono dan Rani Ridawati ini sebetulnya tidak pernah bermimpi menjadi viral. "Biasa-biasa saja, saya cuma ingin tampil baik di Jalur," ujarnya polos. 


Namun di balik kesederhanaannya, mengalir darah Pacu Jalur. Ayahnya, Jufriono, adalah atlet Pacu Jalur kawakan, yang telah mengarungi Sungai Kuantan bertahun-tahun, menanamkan nilai sportivitas, ketekunan, dan cinta budaya kepada putranya.


Dalam filosofi masyarakat Kuantan Singingi, Togak Luan bukan hanya simbol semangat, tetapi juga titik tumpu energi psikis Jalur. Ia adalah wajah perahu, semacam duta kehormatan yang memancarkan aura keberanian dan keindahan. 


Bersama Tukang Onjai—sosok di buritan yang mengatur irama pendayung—mereka adalah dua poros spiritual dan teknikal dalam satu tubuh Jalur. Maka tidak berlebihan bila aksi Dikha di ujung Jalur menyedot perhatian penonton dan konten kreator global.


Pacu Jalur: Perahu, Marwah, dan Identitas


Pacu Jalur bukan hanya lomba mendayung. Ia adalah medan kehormatan, medan spiritualitas, dan juga peristiwa kultural yang menyatukan seluruh elemen masyarakat. Jalur—perahu panjang yang dapat mencapai panjang 25 sampai 40 meter dan berisi 40 hingga 60 pendayung—dirancang tidak hanya sebagai alat transportasi, tetapi sebagai perwujudan dari marwah kampung, harga diri suku, dan semangat kolektif.


Sejarah Pacu Jalur diyakini bermula sejak abad ke-17, sebagai bagian dari upacara adat menyambut tamu kerajaan atau perayaan hari-hari besar Islam. Kemudian ia bermetamorfosis menjadi ajang perlombaan rakyat. 


Tradisi ini berlangsung setiap tahun, biasanya bertepatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga dilakukan di sejumlah kampung sebagai bagian dari tradisi pasca-panen atau kenduri besar.


“Pacu Jalur itu bukan olahraga, tapi ibadah sosial dan kultural. Kita menyatukan niat, tenaga, dan harga diri dalam satu perahu. Maka yang menang bukan hanya pendayung tercepat, tetapi yang paling berjiwa,” ujar Dr. Suhardiman Amby, Bupati Kuantan Singingi yang menjadi sosok kunci dalam menjaga nyala Pacu Jalur tetap menyala hingga ke pentas dunia.


Viralitas, Teknologi, dan Lompatan Tradisi


Ketika video Dikha diunggah ke TikTok oleh salah satu penonton lokal, tidak ada yang menyangka bahwa algoritma dunia maya akan menjadikannya sensasi global. 


Gaya tubuhnya yang lentur, matanya yang fokus, dan tangan yang menari seolah membawa kekuatan gaib dari hulu ke hilir Jalur, menggugah para pengguna internet. Tak butuh waktu lama, gaya Dikha ditiru oleh influencer ternama, artis nasional seperti Luna Maya, hingga Wakil Presiden RI.


Yang luar biasa, perhatian itu bukan hanya dari Indonesia. Pemain muda PSG dan AC Milan merekam diri mereka meniru pose dan gaya Togak Luan, menjadikan Pacu Jalur sebagai tren budaya dunia. Para jurnalis olahraga dunia mulai bertanya, “Apa itu Pacu Jalur?” Lalu datanglah para peneliti, dokumenteris, dan jurnalis budaya mengunjungi Taluk Kuantan.


“Ini bukan hanya tentang Dikha. Ini tentang kebudayaan Melayu yang selama ini sunyi di pedalaman Sumatra, akhirnya keluar ke mata dunia dengan caranya sendiri,” kata Dr. Suhardiman Amby dengan mata berbinar. 


Ia memang dikenal sebagai figur yang konsisten mengangkat harkat dan martabat kebudayaan Kuantan Singingi ke ranah nasional dan internasional. Di tangannya, Pacu Jalur bukan hanya tradisi lokal, tetapi diplomasi budaya.


Dari Sungai ke Media Sosial


Teluk Kuantan kini tidak lagi hanya menjadi kota kecil di tepi Sungai Kuantan. Ia telah menjadi simpul peradaban baru yang menggabungkan nilai-nilai lama dan semangat zaman. 


Di sinilah terjadi pertemuan antara kearifan lokal dan kecanggihan digital. Tradisi yang dulu hanya disaksikan oleh masyarakat kampung, kini menjadi tontonan milyaran orang di seluruh dunia.


Namun perhatian dunia juga membawa tantangan. Bagaimana agar Pacu Jalur tidak sekadar menjadi tontonan eksotis semusim? Bagaimana memastikan bahwa identitas budaya tidak menjadi komoditas? Untuk itu, perlu konsistensi pemerintah daerah, masyarakat adat, dan komunitas budaya untuk menanamkan kembali makna-makna filosofis Pacu Jalur kepada generasi muda.


Dalam semangat itu, pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi terus mengupayakan agar Pacu Jalur bisa didaftarkan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia. Sebuah langkah strategis agar tradisi ini tidak hanya viral, tetapi juga mendapat perlindungan dan pengakuan yang layak.


Dikha dan Masa Depan Budaya


Di balik sorotan kamera dan jutaan view TikTok, Dikha tetaplah seorang anak kampung. Ia masih berangkat ke sekolah dengan sepeda tua, masih membantu orangtuanya di rumah, dan masih ikut latihan Jalur setiap minggu. Tapi kini, ia telah menjadi ikon. Seorang simbol bahwa anak Melayu bisa menaklukkan dunia tanpa kehilangan jati dirinya.


Kisah Dikha adalah kisah perjumpaan antara akar dan angin. Ia berdiri kokoh di haluan perahu, menatap ke depan, menggenggam masa lalu dan masa depan dalam satu tubuh kecil yang tegap. Ia mengajarkan kita bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang hidup, yang tumbuh dari tanah dan air, lalu menjalar ke langit dunia lewat semangat dan cinta.


Dan Teluk Kuantan, kini bukan lagi hanya nama di peta Sumatra. Ia adalah jantung budaya yang berdetak sampai ke Paris, Milan, dan layar ponsel semua orang. ***


Penulis Azmi Bin Rozali
Editor Lukman Hakim
  • BERITA TERKAIT

  • TAG TERKAIT