Portal Berita Online


Belakangan ini, ada satu fenomena menarik di tingkat lokal yang layak kita renungkan bersama.
Organisasi tumbuh dengan sangat subur.
Hampir di setiap sektor—pemuda, nelayan, sosial, bahkan hobi—kita melihat kemunculan berbagai organisasi dengan bentuk dan tujuan yang nyaris serupa. Nama boleh berbeda, tetapi arah dan kegiatannya sering kali tidak jauh berbeda.
Sekilas ini terlihat positif. Tanda bahwa masyarakat kita hidup, aktif, dan ingin berkontribusi.
Namun jika diperhatikan lebih dalam, muncul satu pertanyaan sederhana: mengapa organisasi dengan tujuan yang sama harus berulang kali lahir, alih-alih memperkuat yang sudah ada?
Di sinilah kita bisa melihat fenomena yang dalam literatur sosial dikenal sebagai Tall Poppy Syndrome.
Istilah ini menggambarkan kecenderungan sosial di mana sesuatu yang tumbuh menonjol justru “diratakan”. Ketika ada individu atau kelompok mulai terlihat lebih aktif, lebih berpengaruh, atau lebih maju, secara tidak sadar muncul dorongan untuk menyeimbangkan—bukan dengan ikut tumbuh, tetapi dengan menghadirkan alternatif baru.
Dalam konteks lokal, ini sering muncul dalam bentuk organisasi tandingan.
Bukan karena perbedaan visi yang mendasar, tetapi lebih karena adanya kebutuhan untuk memiliki ruang sendiri. Ruang untuk berperan, untuk diakui, dan tentu saja, untuk memimpin.
Di titik ini, kita masuk pada fenomena berikutnya: semakin banyak orang yang ingin berada di posisi Ketua.
Ini sebenarnya hal yang wajar. Setiap orang memiliki dorongan untuk berkontribusi dan memimpin. Namun dalam praktiknya, sering kali yang berkembang bukanlah semangat kolektif, melainkan orientasi pada posisi.
Akibatnya, organisasi tidak lagi dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan bersama, melainkan sebagai wadah ekspresi peran.
Ketika hal ini terjadi, energi yang seharusnya terkonsolidasi justru terpecah. Program berjalan sendiri-sendiri. Dampak menjadi terbatas. Dan masyarakat sebagai penerima manfaat tidak merasakan perubahan yang signifikan.
Padahal, kekuatan sebuah organisasi tidak terletak pada jumlahnya.
Melainkan pada konsistensi, kualitas kerja, dan kemampuan membangun kepercayaan.
Fenomena ini bukan untuk disesalkan, apalagi disalahkan. Ia adalah bagian dari dinamika sosial yang wajar terjadi di masyarakat yang sedang tumbuh.
Namun justru karena itu, penting bagi kita untuk mulai melihatnya dengan lebih jernih.
Bahwa membangun tidak selalu harus dimulai dari nol.
Bahwa berkontribusi tidak selalu harus dari posisi paling depan.
Dan bahwa keberhasilan bersama sering kali lahir dari kemampuan untuk memperkuat yang sudah ada, bukan menggandakannya.
Jika setiap energi diarahkan untuk saling melengkapi, bukan saling mengganti, maka potensi yang ada akan jauh lebih besar.
Kita tidak kekurangan orang baik. Kita tidak kekurangan niat.
Yang kadang kita butuhkan hanyalah sedikit perubahan cara pandang.
Dari ingin terlihat memimpin, menjadi benar-benar mau bekerja.
Dari ingin berdiri sendiri, menjadi siap berjalan bersama.
Karena pada akhirnya, tujuan kita bukan sekadar banyaknya organisasi.
Tetapi sejauh mana organisasi itu benar-benar memberi arti.[]