SABTU, 21-2-2026


IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial
Medsos
Ilustrasi.

Medsos

Sekarang ini, rasanya semua orang ingin tampil. Buka media sosial, isinya orang berbagi aktivitas, pendapat, foto, video, bahkan curhat yang dulu hanya disimpan di ruang keluarga. Tidak salah. Media sosial memang memberi ruang bagi siapa saja untuk bersuara.


Tapi ada satu fenomena menarik yang pelan-pelan muncul: kita merasa harus selalu dilihat.


Dalam psikologi, ini disebut spotlight effect, yaitu perasaan seolah-olah banyak orang memperhatikan kita. Dulu, istilah ini lebih sering dikaitkan dengan rasa canggung atau gugup. Misalnya, merasa semua orang melihat ketika baju kita salah kancing.


Sekarang berbeda. Bukan lagi takut diperhatikan, tapi takut tidak diperhatikan.


Setiap unggahan seperti sedang diuji. Berapa yang menyukai? Siapa yang berkomentar? Kenapa sepi? Angka-angka kecil di layar ponsel bisa memengaruhi suasana hati. Kalau ramai, senang. Kalau sunyi, mulai bertanya-tanya.


Lama-lama, perhatian terasa seperti ukuran nilai diri.


Padahal, kenyataannya sederhana: orang lain juga sibuk dengan dirinya sendiri. Kita merasa menjadi pusat perhatian, sementara orang lain pun merasa demikian tentang dirinya. Semua ingin jadi pusat, padahal pusatnya tidak pernah jelas di mana.


Di sinilah kadang masalah muncul. Demi terlihat menarik, sebagian orang mulai berlebihan. Ada yang membesar-besarkan cerita. Ada yang mudah marah agar dianggap tegas. Ada pula yang sengaja membuat sensasi supaya namanya disebut-sebut.


Yang penting ramai.


Akibatnya, ruang digital kita menjadi bising. Semua ingin bicara, sedikit yang mau mendengar. Komentar cepat sekali muncul, tapi jarang yang benar-benar dipikirkan. Kita lebih sering bereaksi daripada merenung.


Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota besar. Pun di kampung. Di mana pun sekarang orang sudah terhubung lewat gawai. Ibu-ibu, anak muda, tokoh masyarakat, bahkan pejabat - semuanya punya panggung masing-masing.


Sebenarnya tidak ada yang salah dengan tampil. Media sosial bisa menjadi sarana berbagi kebaikan, informasi, bahkan inspirasi. Yang perlu dijaga adalah niat dan batasnya.


Jangan sampai kita merasa hidup hanya jika dilihat. Jangan sampai nilai diri kita bergantung pada jumlah like dan share.


Ada banyak hal besar justru lahir dari kerja yang tidak selalu dipamerkan. Petani menanam tanpa siaran langsung. Nelayan melaut tanpa perlu unggahan setiap jam. Guru mengajar tanpa harus selalu didokumentasikan.


Mereka mungkin tidak viral. Tapi pekerjaan mereka nyata.


Mungkin sesekali kita perlu bertanya pada diri sendiri: apa yang sebenarnya kita cari di media sosial? Apakah ingin berbagi manfaat, atau sekadar ingin diakui?


Tidak semua hal harus dipamerkan. Tidak semua pendapat harus diumumkan. Kadang, diam dan bekerja sungguh-sungguh jauh lebih kuat daripada tampil terus-menerus.


Di zaman serba terlihat ini, justru kemampuan untuk tetap sederhana adalah kekuatan. Karena pada akhirnya, yang benar-benar dihargai bukan seberapa sering kita muncul di layar, tetapi seberapa besar manfaat kita terasa dalam kehidupan nyata.