SABTU, 14-2-2026


IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial
Madilog

Madilog

Tahun 1942, ketika Jepang mengambil alih Hindia Belanda, seorang buronan politik yang paling di cari, hidup dalam penyamaran di Batavia. Ia bekerja sebagai penjahit, berpindah-pindah, menahan diri dari sorotan. Namanya Tan Malaka. Dalam situasi serba genting itu, ia menulis sebuah buku yang tidak banyak dibicarakan di sekolah, tetapi daya ledaknya melampaui zamannya: Madilog.


Buku itu lahir bukan di ruang kuliah yang nyaman, melainkan di tengah ancaman perang dan penangkapan. Namun justru karena itulah nadanya terasa mendesak. Tan Malaka melihat persoalan bangsa ini bukan semata penjajahan fisik. Ada yang lebih berbahaya, lebih dalam, dan lebih sulit diberantas: cara berpikir yang membuat rakyat mudah pasrah.


Ia menyebutnya sebagai kecenderungan “Logika Mistika”;  sebuah pola pikir yang melompati proses sebab-akibat dan menggantinya dengan harapan instan. Bukan soal iman atau keyakinan pribadi, melainkan kebiasaan menyerahkan persoalan dunia nyata kepada jawaban-jawaban gaib. Ketika gagal, orang mencari jimat. Ketika terdesak, orang menunggu tokoh penyelamat. Ketika tertinggal, orang berharap keajaiban.


Pertanyaannya sederhana: bisakah sebuah bangsa maju jika akalnya jarang dipakai untuk menguji kenyataan?


Lebih dari delapan dekade telah berlalu sejak Madilog ditulis. Kita hidup di era internet, kecerdasan buatan, dan ekonomi digital. Namun pola lama itu belum benar-benar hilang. Praktik perdukunan tetap menemukan pasar. Ramalan zodiak lebih ramai dibaca ketimbang laporan riset. Di musim ujian, masih ada yang percaya benda tertentu bisa mendongkrak hasil tanpa belajar sungguh-sungguh.


Bahkan dalam ruang publik, nalar sering kalah oleh sensasi. Isu viral lebih cepat dipercaya daripada data. Opini yang emosional lebih mudah menyebar ketimbang argumen berbasis fakta. Seolah-olah kemajuan teknologi tidak otomatis melahirkan kedewasaan berpikir.


Di sinilah relevansi Madilog terasa. Tan Malaka menawarkan tiga kata kunci: Materialisme, Dialektika, dan Logika. Ia mendorong pembacanya melihat realitas sebagaimana adanya, memahami hubungan sebab-akibat, lalu mengambil kesimpulan secara rasional. Bukan untuk menghapus keyakinan, tetapi untuk menempatkannya secara proporsional dalam kehidupan.


Lapar tidak selesai dengan sugesti. Kemiskinan tidak hilang oleh harapan kosong. Ketidakadilan tidak runtuh hanya dengan menunggu “Ratu Adil” datang menyelamatkan. Perubahan menuntut analisis, kerja, dan keberanian menghadapi kenyataan.


Barangkali inilah pesan paling menggelisahkan dari Tan Malaka: kemerdekaan sejati bukan hanya soal mengusir penjajah, tetapi membebaskan pikiran dari kebiasaan yang membuatnya pasrah. Bangsa yang enggan berpikir kritis akan selalu mencari figur untuk disembah atau ditakuti. Bangsa yang berani berpikir akan membangun sistem, bukan sekadar mengandalkan tokoh.


Indonesia hari ini tidak kekurangan sumber daya. Yang kerap kurang adalah disiplin nalar. Kita ingin hasil cepat, tetapi enggan menempuh proses panjang. Kita ingin perubahan, tetapi sering alergi pada kritik.


Kemajuan tidak pernah lahir dari keajaiban. Ia tumbuh dari keberanian menggunakan akal sehat  sesuatu yang, sejak 1942, sudah diingatkan oleh Tan Malaka dengan suara yang masih terdengar sampai hari ini.


Kemajuan tidak pernah lahir dari keajaiban. Ia tumbuh dari keberanian menggunakan akal sehat, dari kesediaan menghadapi fakta, dari disiplin berpikir yang jernih.

Lebih dari delapan puluh tahun lalu, Tan Malaka sudah mengingatkan tentang bahaya kemalasan nalar.


Bung, sekarang sudah tahun 2026.