SABTU, 22-11-2025


IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial
Kota Buana: Rumah Makan yang Pernah Membuat Gubernur Salah Sambung
Ilustrasi.

Kota Buana: Rumah Makan yang Pernah Membuat Gubernur Salah Sambung

Kalau Anda lahir atau besar di Pekanbaru, ada satu aroma yang bisa memanggil ingatan lama: wangi rendang yang keluar dari dapur RM Kota Buana. Siapa yang tak kenal Narkoba, alias Nasi Ramas Kota Buana? Tapi tahukah anda, sebelum bernama Kota Buana, rumah makan ini pernah membuat birokrasi kota kelimpungan dan membuat seorang gubernur salah sambung.


Mari mundur ke 1967.

Seorang lelaki bernama H. Abu Bakar membuka rumah makan kecil. Namanya sederhana: RM Hidangan Baru. Menu andalannya? Ya dua itu tadi: rendang dan cincang. Dua menu yang, kalau Anda mencicipinya, Anda akan mengerti kenapa rumah makan ini tidak pernah benar-benar sepi.


Dua tahun berjalan, pelanggan makin ramai. Kota makin sibuk. Nama rumah makan pun ikut “diseriuskan”, dan jadilah RM Kota Madya. Terdengar resmi. Terlalu resmi, ternyata.


Sebab pada masa itu, telepon masih disambungkan manual oleh operator Telkom. Di sinilah masalah itu muncul.

Pelanggan yang ingin pesan nasi ramas plus rendang atau gulai cincang malah tersambung ke kantor Kotamadya. Pun pegawai Kotamadya yang ingin bicara soal administrasi tersambung ke rumah makan.


Yang paling legendaris adalah ini: Gubernur Soebrantas hendak menelepon kantor Kotamadya Pekanbaru. Yang mengangkat?

“RM Kotamadya, Pak. Rendang baru masak.”


Bayangkan wajah gubernur. Bayangkan wajah operator Telkom. Bayangkan wajah pegawai kantor Kotamadya yang mungkin sedang menunggu instruksi tapi malah mendengar tawaran sambal lado.


Kelucuan itu berulang terus. Lama-lama pemerintah kota merasa nama “Kota Madya” itu terlalu berat untuk dibagi dua: satu untuk lembaga pemerintahan, satu untuk rumah makan.


Akhirnya, dengan segala kehalusan budaya Melayu, dimintalah pihak rumah makan mengganti nama.


Dan H. Abu Bakar mengangguk. Tanpa banyak debat. Pada 1973, lahirlah nama baru: RM Kota Buana.


Nama boleh berganti. Telepon sudah otomatis. Gubernur tidak mungkin lagi salah sambung. Tapi satu yang tidak berubah: rasa.


Rendang Kota Buana masih pekat. Minyaknya keluar cantik. Rempahnya berat, yang membuat orang tahu bahwa daging itu bercerita sebelum disantap.

Cincangnya? Masih lembut. Masih gurih. Masih membuat pelanggan lama pulang dengan perasaan seperti bertemu kawan lama.


Setengah abad lebih berlalu. Kota berubah. Gedung tumbuh. Jalan Sudirman makin bising. Tapi Kota Buana tetap ada. Tetap ramai. Dan tetap di jalan HOS Cokroaminoto dengan beberapa cabang di jalan-jalan utama di Pekanbaru.


Dan setiap kali saya lewat di depannya, saya suka membayangkan satu adegan kecil: Telepon berdering, operator salah sambung, lalu seorang gubernur kebingungan di ujung sana. Sementara dari dapur, bau rendang terus naik, seperti menertawakan zaman yang berubah; tapi tetap membutuhkan tempat makan yang jujur, konsisten, dan penuh cerita.


Onde, lamak bana. [naz]