SABTU, 6-6-2025


IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial
In Memoriam Ustadz Yahya Waloni: Singgah yang Membekas

In Memoriam Ustadz Yahya Waloni: Singgah yang Membekas

SIANG menjelang sore kemaren, saya membuka media sosial seperti biasa, sekadar menyapu kabar dan linimasa. Tapi hari itu tidak biasa. Sebuah unggahan mengejutkan menyentak perhatian saya: Ustadz Yahya Waloni wafat ketika sedang menjadi khatib sholat Jumat di Sulawesi Selatan.

Ada pertemuan yang singkat namun tertinggal lama dalam ingatan tentang beliau. Begitulah kesan saya terhadap almarhum Ustadz Yahya Waloni—seorang dai mualaf yang dikenal karena keberaniannya, gaya ceramahnya yang menggelegar, dan keyakinannya yang tak goyah, meskipun kerap disebut kontroversial.

Kisah ini terjadi ketika saya menjabat sebagai Manager on Duty di sebuah Camp perusahaan minyak dan gas di Dayun, Kabupaten Siak, Riau. Dalam tugas tersebut, saya bertanggung jawab atas kelancaran operasional dan sekaligus menjadi jembatan harmonis antara kehidupan Camp dan masyarakat serta aparat pemerintah di sekitar.

Camp kami dilengkapi sebuah masjid. Meski berada di lingkungan industri yang padat disiplin dan kesibukan, kehidupan keagamaannya cukup semarak. Pengurus masjid secara rutin menyelenggarakan kajian, termasuk mengundang ustadz dari luar daerah, terutama untuk memperingati hari-hari besar Islam.

Suatu hari, saya mendapat kabar dari pengurus masjid:
“Besok malam, Ustadz Yahya Waloni akan mengisi tausiah di masjid kita.”

Saya sempat terdiam. Nama itu bukan nama baru di telinga saya. Beliau dikenal luas, bukan hanya sebagai mantan pendeta yang masuk Islam, tapi juga karena gaya ceramahnya yang blak-blakan, kadang menyenggol isu-isu tajam, termasuk kritik terhadap kebijakan pemerintah. Dalam konteks lingkungan kerja yang harus serba hati-hati, ini tentu bukan kabar yang ringan.

Namun ternyata, kehadiran beliau ke masjid Camp lebih karena perjumpaan tak direncanakan. Beliau memang sedang berdakwah di beberapa masjid di Kabupaten Siak. Lewat jaringan masjid antarwilayah, pengurus masjid kami mendapat tawaran singgah: jika memungkinkan, beliau bisa mampir satu malam untuk menyampaikan ceramah. Dan itu pun terjadi—tanpa protokol formal, tanpa undangan resmi.

Malam itu, masjid dipadati jemaah. Tidak hanya karyawan dan penghuni Camp, tetapi juga masyarakat sekitar yang mendengar kabar kedatangan Ustadz Yahya. Ia hadir dengan gaya khasnya—lantang, berani, penuh semangat. Beliau bicara soal keimanan yang kokoh, tentang keberislaman yang aktif dan sadar, serta tentang tanggung jawab umat di tengah dunia yang makin kehilangan arah.

Satu kalimatnya masih saya ingat jelas:

“Umat Islam itu bukan sekadar ikut-ikutan, tapi harus jadi pelita! Kalau takut menyala, jangan panggil diri kita pelita!”

Ceramahnya menusuk, tetapi juga menyala. Bagi sebagian orang, mungkin dianggap terlalu keras. Tapi bagi banyak yang hadir malam itu, termasuk saya, terasa seperti tamparan hangat yang membangunkan.

Namun, keesokan harinya saya dipanggil aparat keamanan setempat. Mereka ingin tahu siapa yang mengundang, apa isi ceramahnya, dan bagaimana proses kedatangannya bisa terjadi di dalam area perusahaan. Saya memahami kekhawatiran mereka, dan saya pun menjelaskan semuanya dengan terbuka. Tidak ada niat tersembunyi, tidak ada unsur politis. Hanya silaturahmi dan dakwah.

Dengan bantuan pengurus masjid, suasana menjadi tenang. Semuanya bisa diterima dengan akal sehat dan niat baik.

Kini, Ustadz Yahya Waloni telah berpulang. Banyak orang mengenangnya dengan berbagai sudut pandang. Tapi bagi saya, beliau adalah potret keteguhan dalam berdakwah. Ia tidak memilih jalan empuk, tapi justru menempuh jalur terjal yang penuh risiko, demi menyampaikan apa yang diyakininya sebagai kebenaran.

Singgahnya hanya semalam. Tapi bekasnya, lebih dari itu.

Semoga Allah SWT menerima amal dakwah beliau, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di sisi para pendakwah yang ikhlas. 

Al Fatihah.