Portal Berita Online


“Ketika manusia terakhir menebang hutan terakhir, ia baru akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan.” — Pepatah suku Indian Cree
Ia bernama Domang. Gajah jantan, remaja, sunyi, dan kian terasing di tengah riuh perkebunan sawit ilegal yang mengepung Taman Nasional Tesso Nilo. Ia bukan tokoh penting dalam politik, bukan selebritas yang viral di media sosial. Namun Domang barangkali adalah alarm terakhir dari alam yang sedang sekarat di Riau.
Tesso Nilo, yang dulu diagungkan sebagai kantong habitat terbesar gajah Sumatera, kini telah dirambah lebih dari 60 persen. Kawasan konservasi yang mestinya steril dari aktivitas komersial telah berubah menjadi hamparan sawit ilegal. Ironisnya, sebagian besar pelaku perambahan adalah pendatang dari luar Riau, dan banyak yang menguasai lahan ratusan hektare—bahkan hingga 400 hektare. Ini bukan lagi cerita tentang rakyat kecil, ini adalah kisah tentang penguasaan, perburuan rente, dan kekacauan tata ruang.
Antara Gajah dan Ekonomi: Siapa yang Lebih Penting?
Belakangan, ketika Satgas Penataan Kawasan Hutan (PKH) dibentuk oleh Presiden Prabowo untuk mengembalikan kawasan yang dirambah secara ilegal, muncul suara-suara lantang dari para pelaku perambahan. Dalih mereka terdengar humanis: “Kehidupan manusia lebih penting daripada gajah dan harimau.”
Tapi benarkah ini soal perut lapar? Soal anak-anak yang butuh sekolah dan orang tua yang harus menyambung hidup?
Realitanya jauh lebih kompleks. Banyak dari kebun-kebun itu bukan dikelola petani gurem, tapi oleh individu atau kelompok yang bermain di zona abu-abu legalitas. Ada sistem distribusi lahan, backing politik, bahkan investor senyap. Jika semua itu dibungkus atas nama rakyat kecil, maka kita sedang menyaksikan kebohongan ekologis yang dipelihara bersama.
Domang Tak Pernah Merampas
Domang tidak pernah merusak rumah warga, tidak pernah menggugat pengadilan, tidak pula membawa surat keterangan tanah palsu. Ia hanya bertahan, berpindah-pindah dalam hutan yang makin menyempit. Dan ketika ia mendekati kebun, bukan karena ia jahat, tapi karena kita telah merampas tempat hidupnya.
Dan ketika gajah dianggap “hama” karena masuk ke ladang sawit, kita lupa bahwa merekalah penjaga hutan sejati. Gajah menyebarkan biji-bijian, membuka jalur air, menjaga keseimbangan ekosistem. Hilangnya satu spesies kunci seperti gajah adalah efek domino menuju kehancuran lingkungan yang jauh lebih luas.
Tesso Nilo: Antara Penegakan dan Pembiaran
Kita tidak kekurangan aturan. Tapi kita kekurangan keberanian untuk menegakkannya. Tesso Nilo sudah lama menjadi ajang tarik-menarik kepentingan. Penegakan hukum terhadap perambah sawit seringkali tebang pilih. Sementara warga adat yang hidup bersahaja dan menjaga hutan justru terpinggirkan.
Maka pertanyaannya bukan lagi tentang siapa lebih penting—gajah atau manusia. Tapi: manusia yang mana? Apakah mereka yang benar-benar menggantungkan hidup dari hutan, atau mereka yang menjadikannya ladang spekulasi?
Menjaga Domang, Menjaga Masa Depan
Menyelamatkan Domang bukan sekadar menyelamatkan satu ekor gajah. Ini tentang mengembalikan moral ekologi bangsa. Ini tentang mengakui bahwa pembangunan yang mengorbankan keanekaragaman hayati adalah pembangunan yang rapuh.
Satgas PKH tidak akan berhasil jika tidak dibarengi oleh ketegasan hukum, pemutusan rantai mafia tanah, dan pendekatan yang adil terhadap masyarakat adat. Konservasi tak bisa hanya jadi jargon. Ia harus jadi gerakan bersama—dari pusat hingga kampung-kampung.
Karena jika hari ini kita membiarkan Domang mati, maka kita juga sedang menandatangani akta kematian masa depan anak cucu kita. [naz]