SABTU, 4-4-2026


IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial
Angka yang Turun, Rasa yang Naik
Ilustrasi.

Angka yang Turun, Rasa yang Naik

Di ruang-ruang rapat yang sejuk dan penuh tata bahasa statistik, angka sering tampil meyakinkan. Ia rapi, presisi, dan tampak objektif. Dalam forum Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LPKJ) di DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, publik disuguhi kabar yang sekilas menenangkan: angka kemiskinan turun dari 23 persen menjadi 21 persen.


Sebuah capaian? Secara angka, iya.

Namun di luar gedung itu; di pasar, di kedai kopi, di dalam kempang, di wajah-wajah yang menahan cemas, muncul tanya yang lebih jujur: kalau kemiskinan turun, mengapa hidup terasa makin berat?


Di titik inilah kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menyanggah data, tetapi untuk memahami maknanya.


Kita sering lupa bahwa data bukanlah realitas itu sendiri. Ia hanyalah representasi, data adalah potret diam dari kehidupan yang terus bergerak. Dan seperti setiap potret, ia sangat bergantung pada sudut pengambilan, pencahayaan, dan lensa yang digunakan. Dalam hal ini, lensa itu adalah metodologi statistik yang disusun oleh Badan Pusat Statistik.


Tidak ada yang keliru dengan angka. Tetapi angka yang benar belum tentu cukup jujur untuk menjelaskan kenyataan.


Penurunan dua persen dalam statistik kemiskinan bisa saja terjadi karena berbagai faktor: bantuan sosial yang efektif, pergeseran garis kemiskinan, atau perubahan metode pengukuran. Namun, dalam saat yang sama, kelompok masyarakat yang berada tepat di atas garis kemiskinan - yang disebut near poor (hampir miskin) - justru bisa membengkak. Mereka tidak tercatat sebagai miskin, tetapi hidup dalam kerentanan yang nyaris tak berbeda.


Di atas kertas, mereka “selamat”.

Di kehidupan nyata, mereka “terancam”.


Lebih dari itu, angka pengangguran pun sering menyimpan ironi. Seseorang yang bekerja serabutan, tanpa kepastian penghasilan, tetap tercatat sebagai “bekerja”. Statistik menjadi rapi. Tetapi dapur tetap sulit mengepul.


Di sinilah kita berhadapan dengan dua wajah realitas:

realitas statistik dan realitas sosial.


Yang satu berbicara dengan angka, yang lain dengan rasa.

Dan ketika keduanya tidak saling menjelaskan, maka yang lahir adalah jarak, dan bahkan ketidakpercayaan.


Kita melihat gejala itu hari ini. Kritik dari fraksi-fraksi DPRD bukan semata reaksi politis, tetapi cerminan dari kegelisahan yang lebih luas. Di media sosial, sindiran bermunculan. Salah satunya tajam dan pahit: “kemiskinan memang menurun, dari bapak turun ke anak.”


Kalimat itu mungkin terdengar satir, tetapi ia mengandung pesan yang serius: publik merasa tidak terwakili oleh narasi resmi.


Persoalannya bukan pada benar atau salahnya angka. Persoalannya adalah bagaimana angka itu dikomunikasikan dan dimaknai.


Dalam tata kelola pemerintahan yang matang, data seharusnya tidak berhenti sebagai alat legitimasi. Ia harus menjadi jembatan antara kebijakan dan kenyataan. Setiap angka mesti diterjemahkan ke dalam pertanyaan yang lebih manusiawi: siapa yang terbantu, siapa yang tertinggal, dan siapa yang nyaris jatuh.


Di sinilah kepemimpinan diuji.


Seorang pemimpin tidak cukup hanya menyampaikan bahwa kemiskinan turun dua persen. Ia harus mampu menjelaskan: di desa mana penurunan itu terjadi, pada kelompok mana perbaikan dirasakan, dan mengapa di tempat lain justru terasa sebaliknya.


Lebih penting lagi, ia harus berani mengakui bahwa angka yang membaik belum tentu berarti masalah telah selesai.


Kejujuran semacam ini tidak melemahkan pemerintah. Justru sebaliknya, ia membangun kepercayaan. Karena publik tidak menuntut kesempurnaan, tetapi mereka sangat peka terhadap keaslian.


Kita membutuhkan cara pandang baru dalam membaca data: bukan sekadar sebagai angka, tetapi sebagai cerita tentang manusia.


Satu persen kemiskinan bukan hanya statistik. Ia adalah ribuan keluarga yang berjuang menjaga martabat hidup. Satu angka pengangguran bukan sekadar rasio. Ia adalah anak muda yang kehilangan arah dan harapan.


Jika data tidak mampu menangkap itu, maka ia kehilangan rohnya.


Kabupaten Kepulauan Meranti hari ini tidak kekurangan angka. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membaca angka secara utuh, dan kerendahan hati untuk mengakui keterbatasannya.


Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan terletak pada seberapa indah laporan disusun, tetapi pada seberapa nyata perubahan dirasakan.


Dan di sanalah, angka menemukan maknanya.[]